Menghargai Hak Cipta

Satu hal yang terlihat jelas di Singapura ini adalah penghargaan mereka terhadap hak cipta. Di sini tidak ada yang namanya software bajakan (kecuali mungkin yang dibawa masuk orang Indonesia :) ). Semua software harus dibeli versi aslinya. Begitu juga halnya dengan film atau MP3 bajakan, sama sekali tidak ada. Dan tentu saja tidak ada tempat seperti Glodok di Jakarta di mana kita bisa membeli DVD film bajakan seharga Rp 4.000 per keping !

Hal yang sama juga berlaku untuk buku atau karya tulis lainnya. Di perpustakaan dan kelas-kelas sama sekali tidak ada buku hasil fotokopi. Dan pihak universitas berulang-ulang menekankan tentang pentingnya menghargai hak cipta. Bukan berarti tidak boleh fotokopi sama sekali, tapi fotokopi-nya harus mengikuti ketentuan hak cipta yang berlaku. Untuk buku misalnya, hanya boleh mem-fotokopi maksimal 10% dari isi buku. Lebih dari itu dianggap melanggar hak cipta. Begitu juga dengan jurnal, hanya boleh mem-fotokopi satu artikel saja. Dan jangan coba-coba membawa buku teks ke tempat fotokopi untuk minta mereka mem-fotokopi seluruh buku itu. Kita bisa dimarahi habis-habisan !

Mungkin dari sinilah tercipta atmosfir yang mendorong inovasi. Seperti ditulis di buku Economics for Dummies, penghargaan terhadap hak cipta merupakan syarat penting untuk terjadinya inovasi (lihat juga post Pembajakan Mematikan Inovasi). Siapa yang mau susah payah berinovasi kalau hasil karyanya bisa dijiplak orang dengan mudah ?

Sejak awal masuk universitas mahasiswa sudah disodori dengan peraturan tentang royalti dan hak paten. Dan di universitas ada badan khusus yang menangani tentang hak paten dan komersialisasi penemuan-penemuan baru. Jadi ya … iklimnya memang dirancang untuk memunculkan inovasi dan penemuan baru.

Entahlah, bagaimana dengan kondisi di Indonesia ? Apa yang harus kita lakukan ? Mungkin ada pendapat dari rekan-rekan ?