<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gaya Hidup Digital &#187; Pengembangan Diri</title>
	<atom:link href="http://www.gayahidupdigital.com/category/pengembangan-diri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gayahidupdigital.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 09 Nov 2008 12:27:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mencipta Ide dan Jadi Miliarder</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2008/05/18/mencipta-ide-dan-jadi-miliarder/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2008/05/18/mencipta-ide-dan-jadi-miliarder/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 08:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/2008/05/18/mencipta-ide-dan-jadi-miliarder/</guid>
		<description><![CDATA[Ada artikel menarik di majalah The New Yorker yang berjudul In the Air. Penulis artikelnya adalah Malcolm Gladwell yang juga merupakan penulis buku The Tipping Point dan Blink. Artikel itu membahas tentang sebuah perusahaan bernama Intellectual Ventures yang bertujuan mencipta ide untuk lalu dipatenkan. Hak paten-nya ini kemudian dilisensikan ke perusahaan-perusahaan dengan harga yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada artikel menarik di majalah <a href="http://www.newyorker.com/">The New Yorker</a> yang berjudul <a href="http://www.newyorker.com/reporting/2008/05/12/080512fa_fact_gladwell?currentPage=all">In the Air</a>. Penulis artikelnya adalah Malcolm Gladwell yang juga merupakan penulis buku <a href="http://www.amazon.com/Tipping-Point-Little-Things-Difference/dp/0316346624/ref=pd_bbs_sr_1?ie=UTF8&amp;s=books&amp;qid=1211100569&amp;sr=8-1">The Tipping Point</a> dan <a href="http://www.amazon.com/Tipping-Point-Little-Things-Difference/dp/0316346624/ref=pd_bbs_sr_1?ie=UTF8&amp;s=books&amp;qid=1211100569&amp;sr=8-1">Blink</a>. Artikel itu membahas tentang sebuah perusahaan bernama <a href="http://www.google.com/url?sa=t&amp;ct=res&amp;cd=1&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.intellectualventures.com%2F&amp;ei=7-4vSPGoDIqw6wOf_fC7Dw&amp;usg=AFQjCNFg2aqVjTKhCPZKauTNGuZxzJ8yyQ&amp;sig2=rGidQVNVSmiRX6aFSDxA-A">Intellectual Ventures</a> yang bertujuan mencipta ide untuk lalu dipatenkan. Hak paten-nya ini kemudian dilisensikan ke perusahaan-perusahaan dengan harga yang tidak murah.</p>
<p>Saat ini mereka mengajukan tidak kurang dari 500 hak paten setiap tahun, dan kumpulan hak patennya yang disewakan sudah menghasilkan uang puluhan juta dolar. Ingat, mereka sama sekali tidak pernah membuat produk. Pekerjaan mereka hanya berpikir dan menuangkan ide. Perusahaan lainlah yang repot membuat produk sesungguhnya dan memasarkannya. Tapi toh dengan cara ini mereka sudah menjadi jutawan dolar alias miliarder rupiah!</p>
<p>Tentu, tidak mudah mengikuti jejak mereka. Orang-orang yang tergabung di situ kelasnya memang tidak sembarangan. Lihat saja salah satunya: Nathan Myhrvold. Dia ini adalah orang jenius yang sudah menjadi doktor ilmu fisika pada umur 23 tahun, tapi kemudian beralih ke bidang komputer dan menjadi Chief Technology Officer Microsoft (dia akhirnya keluar dari Microsoft tahun 1999). Dia termasuk pendiri Microsoft Research yang berarti dia membawahi <em>semua </em>ilmuwan yang ada di Microsoft. Karena kelas ilmuwan Microsoft sudah tidak perlu diragukan lagi, bisa dibayangkan orang sekelas apa Nathan Myhrvold itu.</p>
<p>Orang hebat memang bisa jadi miliarder cukup dengan mencipta ide.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2008/05/18/mencipta-ide-dan-jadi-miliarder/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan Lain Mengapa Amerika Maju: Etos Kerja</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2007/11/17/alasan-lain-mengapa-amerika-maju-etos-kerja/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2007/11/17/alasan-lain-mengapa-amerika-maju-etos-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 04:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Tampaknya artikel Mengapa Amerika Maju merupakan salah satu artikel yang paling menarik diskusinya di blog ini. Seru juga membaca komentar-komentar yang ada di sana. Meskipun saya percaya bahwa alasan utama mengapa Amerika maju tetap &#8220;Amerika adalah mesin mimpi terbesar di dunia&#8221;, tapi saya teringat akan alasan lain yang juga penting.
Alasannya adalah etos kerja.
Orang Amerika memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tampaknya artikel <a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/12/22/mengapa-amerika-maju/">Mengapa Amerika Maju</a> merupakan salah satu artikel yang paling menarik diskusinya di blog ini. Seru juga membaca komentar-komentar yang ada di sana. Meskipun saya percaya bahwa alasan <em>utama </em>mengapa Amerika maju tetap &#8220;Amerika adalah mesin mimpi terbesar di dunia&#8221;, tapi saya teringat akan alasan lain yang juga penting.</p>
<p>Alasannya adalah <em>etos kerja</em>.</p>
<p>Orang Amerika memiliki etos kerja yang berbeda dengan kebanyakan orang di Indonesia: mereka bekerja keras <em>sungguh-sungguh</em> dan <em>terus-menerus</em>. Saya teringat akan cerita salah seorang teman saya yang pernah bertahun-tahun tinggal di Boston, Amerika. Boston ini merupakan kota pendidikan yang terkenal karena di dekatnya ada universitas-universitas terbaik dunia&nbsp;seperti <a href="http://www.harvard.edu/">Harvard</a> dan <a href="http://mit.edu/">MIT</a>. Yang diceritakannya kira-kira seperti ini:</p>
<p><span id="more-290"></span><br />
<blockquote>
<p>Kita ini belum terbiasa dengan cara kerja orang sana (Amerika). Kalau diibaratkan dengan perlombaan lari, di sini (Indonesia) kita bisa berlari, lalu berhenti sebentar menarik napas, lalu kita lihat, &#8216;Oh&nbsp;rekanku sudah di depan!&#8217; lalu kita berlari lagi menyusul dia. Di sana tidak bisa seperti itu. Jangankan berhenti, menoleh sebentar saja bakal terlambat. Tahu-tahu teman kita itu sudah bikin penemuan baru, atau&nbsp;menulis artikel di jurnal internasional. Dia sudah sangat jauh di depan dan tidak mungkin terkejar.</p>
</blockquote>
<p>Perbandingan dengan orang berlari ini menurut saya pas sekali. Seperti itulah cara mereka bekerja: berlari <em>sekuat tenaga </em>dan <em>tidak pernah berhenti</em>. Saat kita berlari bersama mereka:</p>
<p>1. Berlarinya harus benar-benar kencang, dengan konsentrasi penuh. Kalau tidak, kita bakal tertinggal jauh.</p>
<p>2. Menoleh sebentar saja tidak boleh. Apalagi berhenti. Kita bakal tertinggal selamanya.</p>
<p>Berbeda jauh bukan dengan keadaan kita?&nbsp;Di sini&nbsp;umumnya&nbsp;kita masih bisa berhenti sebentar untuk beristirahat sebelum berlari lagi (itu pun larinya&nbsp;tidak sekuat tenaga).</p>
<p>Bisakah kita punya etos kerja seperti itu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2007/11/17/alasan-lain-mengapa-amerika-maju-etos-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trend Pekerjaan di Masa Depan</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2007/07/02/trend-pekerjaan-di-masa-depan/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2007/07/02/trend-pekerjaan-di-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 05:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[
Belakangan ini muncul trend yang semakin kuat tentang bagaimana cara kita seharusnya bekerja. Umumnya, cara orang bekerja adalah dengan bekerja di sebuah perusahaan yang menuntut komitmen waktu tertentu, misalnya 40 jam seminggu. Di Amerika, pekerjaan semacam ini dikenal dengan istilah &#8220;9 to 5&#8243; karena jam kerjanya adalah dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin-top: 20px; float: right; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px"><a href="http://www.flickr.com/photos/wolfrage/8322054/"><img style="border-right: rgb(0,0,0) 2px solid; border-top: rgb(0,0,0) 2px solid; border-left: rgb(0,0,0) 2px solid; border-bottom: rgb(0,0,0) 2px solid" alt="" src="http://farm1.static.flickr.com/4/8322054_8c3d8f2f9d_m.jpg"/></a></div>
<p>Belakangan ini muncul trend yang semakin kuat tentang bagaimana cara kita seharusnya bekerja. Umumnya, cara orang bekerja adalah dengan bekerja di sebuah perusahaan yang menuntut komitmen waktu tertentu, misalnya 40 jam seminggu. Di Amerika, pekerjaan semacam ini dikenal dengan istilah &#8220;9 to 5&#8243; karena jam kerjanya adalah dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.  </p>
<p>Kenyataannya, jam kerja terus meningkat, lebih dari jam kerja normal yang 40 jam seminggu. Sebuah penelitian belakangan ini menyebutkan bahwa di banyak perusahaan di Amerika jam kerja sesungguhnya mencapai 70 jam seminggu! Ini berarti bekerja hampir 12 jam sehari selama 6 hari!</p>
<p><span id="more-288"></span>
<p>Dari kenyataan seperti ini, belakangan muncul gerakan yang mengatakan bahwa kita harusnya bekerja dengan cara baru yang fleksibel. Inti filosofinya adalah ini:  </p>
<p><strong>Umumnya orang bekerja untuk mendapatkan uang. Tapi seharusnya kita bekerja untuk membangun sistem yang bisa menghasilkan uang secara otomatis.</strong>  </p>
<p>Pekerjaan kita seharusnya adalah membangun sistem yang bisa menghasilkan uang secara otomatis tanpa memerlukan kehadiran kita. Memang, konsep yang mirip yaitu &#8220;passive income&#8221; pernah dipopulerkan oleh Kiyosaki. Tapi saya merasa bahwa apa yang muncul belakangan ini lebih dalam dan lebih luas variasinya dibandingkan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Kiyosaki.  </p>
<p>Buku terbaru di bidang ini adalah <a href="http://www.amazon.com/4-Hour-Workweek-Escape-Live-Anywhere/dp/0307353133/ref=pd_bbs_sr_1/102-9706162-3765713?ie=UTF8&amp;s=books&amp;qid=1183353254&amp;sr=8-1">The 4-Hour Workweek</a> yang ditulis oleh Timothy Ferriss. Tidak seperti Kiyosaki yang lebih mementingkan soal &#8220;passive income&#8221;, Ferriss lebih mementingkan pada gaya hidup dengan &#8220;passive income&#8221; sebagai salah satu sarana mencapainya (dua sarana yang lain adalah waktu dan mobilitas).  </p>
<p>Yang saya tangkap belakangan ini, kelihatannya trend di masa depan akan mengarah ke bermunculannya &#8220;virtual company&#8221; di mana setiap orang bisa membangun perusahaannya sendiri yang berskala internasional. Meskipun hanya didirikan oleh satu orang, perusahaan ini bakal bisa menangani pekerjaan dalam skala yang cukup besar dengan memanfaatkan konsep &#8220;outsourcing&#8221;.  </p>
<p>Menarik sekali kan, kalau kita bisa punya pekerjaan yang fleksibel, independen, tapi sekaligus berskala internasional?</p>
<p><em>Gambar oleh </em><a href="http://www.flickr.com/photos/wolfrage/"><em>Wolfrage</em></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2007/07/02/trend-pekerjaan-di-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Genre Bacaan Baru: Science Fiction</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2007/02/25/genre-bacaan-baru-science-fiction/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2007/02/25/genre-bacaan-baru-science-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Feb 2007 17:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[
Ada satu genre bacaan baru yang masuk perbendaharaan saya sekarang: science fiction. Ini agak tidak lazim sebenarnya, karena saya jarang membaca buku fiksi.  
Waktu masih SD-SMP memang saya sering membaca buku fiksi (seperti Lima Sekawan, STOP, dan Trio Detektif), tapi lama-kelamaan bacaan saya beralih ke nonfiksi. Malahan bisa dibilang buku bacaan saya sekarang &#8220;serius&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin-top: 20px; float: right; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px"><a href="http://flickr.com/photos/theunholytrinity/44947117/"><img style="border-right: rgb(0,0,0) 2px solid; border-top: rgb(0,0,0) 2px solid; border-left: rgb(0,0,0) 2px solid; border-bottom: rgb(0,0,0) 2px solid" alt="" src="http://farm1.static.flickr.com/32/44947117_0173ce9719_m.jpg"/></a></div>
<p>Ada satu genre bacaan baru yang masuk perbendaharaan saya sekarang: <em>science fiction</em>. Ini agak tidak lazim sebenarnya, karena saya jarang membaca buku fiksi.  </p>
<p>Waktu masih SD-SMP memang saya sering membaca buku fiksi (seperti Lima Sekawan, STOP, dan Trio Detektif), tapi lama-kelamaan bacaan saya beralih ke nonfiksi. Malahan bisa dibilang buku bacaan saya sekarang &#8220;serius&#8221; semua. Pengarang fiksi yang saya suka cuma <a href="http://danbrown.com/">Dan Brown</a>, dan gawatnya dia hanya menulis empat buku. Tiga di antaranya (<a href="http://www.amazon.com/Da-Vinci-Code-Dan-Brown/dp/1400079179/sr=8-1/qid=1172335825/ref=pd_bbs_sr_1/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;s=books">Da Vinci Code</a>, <a href="http://www.amazon.com/Angels-Demons-Dan-Brown/dp/1416524797/sr=8-1/qid=1172335828/ref=pd_bbs_sr_1_s9_rk/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;s=books&amp;s9r=8a02a1a50ada2924010af12ad1a80003&amp;itemPosition=1">Angels and Demons</a>, dan <a href="http://www.amazon.com/Digital-Fortress-Dan-Brown/dp/0552151696/sr=8-1/qid=1172335833/ref=pd_bbs_sr_1/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;s=books">Digital Fortress</a>) sudah saya baca, dan tinggal satu buku saja yang belum saya baca (<a href="http://www.amazon.com/Deception-Point-Dan-Brown/dp/1416524800/sr=8-1/qid=1172335837/ref=pd_bbs_sr_1_s9_rk/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;s=books&amp;s9r=8a02a1a50ada2924010af12ca5820004&amp;itemPosition=1">Deception Point</a>).</p>
<p><span id="more-284"></span>
<p>Nah, baru-baru ini saya &#8220;melebarkan sayap&#8221; ke <em>science fiction</em>. Setelah melihat-lihat dari daftar <a href="http://home.austarnet.com.au/petersykes/topscifi/lists_books_rank1.html">Top 100 Sci-Fi Books</a>, saya akhirnya memilih buku <a href="http://www.amazon.com/Hitchhikers-Guide-Galaxy-Douglas-Adams/dp/0345391802/sr=8-3/qid=1172335412/ref=pd_bbs_sr_3/103-4032679-9882217?ie=UTF8&amp;s=books">Hitchhiker&#8217;s Guide to the Galaxy</a>. Ini termasuk buku <em>science fiction </em>paling populer dan sering disebut-sebut di <a href="http://slashdot.org/">Slashdot</a> (ada 530 <a href="http://www.google.com/search?q=hitchhiker+site%3Aslashdot.org">hasil pencarian di Slashdot</a> waktu tulisan ini dibuat).  </p>
<p>Lho, ada angin apa kok membaca <em>science fiction</em>?  </p>
<p>Ya, awal mulanya adalah waktu saya membaca soal <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kardashev_scale">skala Kardashev</a> beberapa waktu yang lalu. Mata saya jadi terbuka. Dulu saya pikir dunia sekarang ini canggih: ada pesawat ulang alik, satelit, Internet, superkomputer, dan sebagainya. Tapi setelah membaca tentang skala Kardashev pendapat saya jadi terbalik: ternyata kita hidup di dunia yang primitif! Peradaban manusia sekarang ini bahkan belum masuk level 1 di skala Kardashev. Apa jadinya kalau kita harus berhadapan dengan peradaban level 2 apalagi 3?  </p>
<p>Lalu saya jadi bertanya-tanya sendiri, kenapa ya selama ini kok pikiran saya begitu sempit? Kok bisa ya saya hanya melihat selebar daun kelor sampai mengira dunia sekarang ini canggih? Dari sini muncullah keinginan untuk membaca <em>science fiction</em>: saya ingin membawa pikiran saya menembus batas-batas! Saya ingin melihat lebih lebar dari daun kelor.  </p>
<p>Jadi begitulah saya membaca <em>Hitchhiker&#8217;s Guide to the Galaxy</em>. Di sini ceritanya bumi bakal dimusnahkan karena akan dibuat jalan bebas hambatan tingkat galaksi. Ya anggaplah bumi tersingkir karena terkena &#8220;pelebaran jalan&#8221;. Hmm, ini saya baru mulai membaca &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2007/02/25/genre-bacaan-baru-science-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Amerika Maju ?</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2006/12/22/mengapa-amerika-maju/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2006/12/22/mengapa-amerika-maju/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2006 18:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/2006/12/22/mengapa-amerika-maju/</guid>
		<description><![CDATA[
Pernah nggak berpikir mengapa Amerika maju ? Saya sempat mengajukan pertanyaan ini ke diri sendiri. Dalam bidang teknologi misalnya, banyak penemuan baru di dunia berasal dari Amerika. Bahkan kalau mau dikhususkan di bidang software dan Internet, mungkin di atas 90% perusahaannya berasal dari Amerika ! Coba perhatikan nama-nama ini: Microsoft, IBM, Google, Yahoo, YouTube, MySpace, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="float: right; margin-top: 20px; margin-left: 10px; margin-bottom: 10px;"><a href="http://flickr.com/photos/kros/259803598/"><img src="http://farm1.static.flickr.com/122/259803598_4f940dc468_m.jpg" alt="" style="border: 2px solid rgb(0, 0, 0);" /></a></div>
<p>Pernah nggak berpikir mengapa Amerika maju ? Saya sempat mengajukan pertanyaan ini ke diri sendiri. Dalam bidang teknologi misalnya, banyak penemuan baru di dunia berasal dari Amerika. Bahkan kalau mau dikhususkan di bidang software dan Internet, mungkin di atas 90% perusahaannya berasal dari Amerika ! Coba perhatikan nama-nama ini: Microsoft, IBM, Google, Yahoo, YouTube, MySpace, Netscape, Oracle â€¦  semuanya adalah perusahaan Amerika. Untuk perusahaan software yang besar di luar Amerika saya hanya bisa memikirkan SAP dan Corel. </p>
<p><span id="more-278"></span>
<p>Semua ini membuat saya penasaran. Masalahnya, secara intelektual saya pikir Amerika tidak unggul. Dalam olimpiade ilmiah misalnya, tidak terdengar mereka menjadi juara dunia. Yang merajai adalah Cina atau negara-negara Eropa Timur (dan belakangan juga <a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/07/18/inspirasi-dari-tim-olimpiade-fisika-indonesia/">Indonesia</a> tentunya <img src='http://www.gayahidupdigital.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Dalam buku <a href="http://www.amazon.com/World-Flat-History-Twenty-first-Century/dp/0374292884/sr=8-2/qid=1166550444/ref=pd_bbs_2/103-4686014-7885401?ie=UTF8&amp;s=books">The World is Flat</a> banyak ditulis bagaimana anak-anak di Amerika pendidikannya tertinggal dibandingkan banyak negara lain. Orang-orang Asia bekerja lebih keras dan seringkali mempunyai prestasi lebih tinggi dari orang Amerika. Dengan keadaan seperti itu bagaimana mereka bisa begitu menonjol di dunia ?</p>
<p>Jawaban untuk ini tersirat di dalam The World is Flat dan saya pikir inilah kuncinya:</p>
</p>
<p><center><b><i>Amerika adalah mesin mimpi terbesar di dunia</i></b></center></p>
<p>Apa yang dimaksud dengan &#8220;mesin mimpi&#8221; ? Ini dia:
</p>
<ol>
<li><b>Setiap orang bebas memiliki mimpinya sendiri-sendiri</b><br />
Ini adalah keunggulan dari negara yang bebas seperti Amerika. Setiap orang bisa memiliki mimpinya sendiri-sendiri tanpa dibatasi oleh sistem politik, sosial, dan lain-lain. Di banyak negara lain hal ini tidak terjadi. Ada saja peraturan yang membatasi mimpi mereka. Inilah salah satu keunggulan Amerika dari Cina yang menerapkan sistem komunis. Di Cina masih banyak peraturan yang membatasi, khususnya kalau bersentuhan dengan politik. Terus terang saja, saya sama sekali tidak percaya Cina akan bisa menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia selama mereka masih menerapkan sistem komunis seperti sekarang.</li>
<li><b>Setiap orang <i>didorong </i>untuk mewujudkan mimpinya</b><br />
Mungkin semua orang bisa mempunyai mimpinya sendiri-sendiri, tapi untuk mewujudkan mimpi pasti tidak mudah mengingat risiko yang diambil. Nah, di Amerika orang-orang <i>didorong </i>untuk mewujudkan mimpinya. Dengan cara apa ? Yaitu dengan tersedianya <i>insentif finansial yang sangat besar </i>kalau mereka berhasil mewujudkan mimpinya. Insentif ini terutama dalam bentuk IPO (<i>initial public offering</i>) di pasar saham dan akuisisi dari perusahaan yang lebih besar. Insentif IPO inilah yang menjadikan Sergey Brin dan Larry Page dari Google masuk daftar orang terkaya dunia dalam usia masih 30-an tahun. Dan insentif akuisisilah yang membuat orang-orang YouTube kebanjiran uang setelah dibeli Google.<br />
Satu hal lagi yang juga membantu adalah kenyataan bahwa di Amerika setiap orang menerima imbalan sesuai dengan kemampuan dan kontribusi masing-masing (sistem meritokrasi). Ini berbeda dengan keadaan di kerajaan-kerajaan kaya minyak di mana para bangsawannya menjadi kaya raya semata-mata karena faktor keturunan</li>
<li><b>Setiap orang <i>dibantu </i>untuk mewujudkan mimpinya</b><br />
Amerika memiliki sistem yang bagus untuk membantu orang mewujudkan mimpi mereka menjadi kenyataan. Yang pertama adalah dari segi hukum, di mana sangat mudah untuk mendirikan maupun <i>menutup </i>perusahaan. Akibatnya orang-orang tidak bimbang untuk memulai perusahaan baru. Yang kedua &#8211; dan ini mungkin paling menentukan &#8211; adalah <i>tersedianya dana secara besar-besaran </i>bagi orang-orang &#8220;gila&#8221; melalui <i>venture capital </i>(VC). Karena banyak mimpi membutuhkan dana tidak sedikit untuk diwujudkan, VC inilah yang memungkinkan mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan. Para <i>venture capitalist </i>di Amerika memiliki sistem yang sangat handal untuk memilih dan memoles ide yang berprospek untuk didukung.</li>
</ol>
<p>Dari sini tidak heran kalau banyak ide gila muncul dan berkembang di Amerika dan bukannya di negara lain. Mungkin banyak hal lain di Amerika mudah ditiru, tapi saya yakin akan sangat sulit untuk meniru &#8220;mesin mimpi&#8221; ini. Meskipun begitu, siapa tahu Indonesia suatu saat juga bisa menjadi mesin mimpi. Bagaimana, mungkin tidak Indonesia menjadi mesin mimpi ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2006/12/22/mengapa-amerika-maju/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar MBA dengan Personal MBA</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2006/11/20/belajar-mba-dengan-personal-mba/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2006/11/20/belajar-mba-dengan-personal-mba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Nov 2006 01:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/2006/11/20/belajar-mba-dengan-personal-mba/</guid>
		<description><![CDATA[
Dari hasil berkelana di dunia web beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah situs menarik: The Personal MBA. Situs ini dibuat berdasarkan pemikiran bahwa daripada mengikuti program MBA sungguhan, kita bisa mendapatkan pengetahuan serupa dengan membaca sekitar 40 buku plus pengalaman.

Lho, mengapa tidak mengikuti program MBA sungguhan saja ? Karena:


Mahal
Biaya kuliah untuk MBA di Indonesia mencapai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="float: right; margin-top: 20px; margin-left: 10px; margin-bottom: 10px;"><a href="http://flickr.com/photos/lucylucyfer/46563164/"><img src="http://static.flickr.com/27/46563164_1f4e5f0e81_m.jpg" alt="" style="border: 2px solid rgb(0, 0, 0);" /></a></div>
<p>Dari hasil berkelana di dunia web beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah situs menarik: <a href="http://joshkaufman.net/personalmba/">The Personal MBA</a>. Situs ini dibuat berdasarkan <a href="http://sethgodin.typepad.com/seths_blog/2005/03/good_news_and_b.html">pemikiran</a> bahwa daripada mengikuti program MBA sungguhan, kita bisa mendapatkan pengetahuan serupa dengan membaca sekitar 40 buku plus pengalaman.</p>
<p><span id="more-275"></span></p>
<p>Lho, mengapa tidak mengikuti program MBA sungguhan saja ? Karena:
</p>
<ol>
<li><i>Mahal</i><br />
Biaya kuliah untuk MBA di Indonesia mencapai puluhan juta rupiah, dan di luar negeri ratusan juta rupiah (atau bahkan lebih). Kalau ditambah dengan gaji yang hilang karena harus meninggalkan pekerjaan, nilai uang yang dikorbankan bisa naik berkali-kali lipat. Sekedar hitung-hitungan, biaya untuk program MBA di Amerika bisa di atas USD 100.000. Sedangkan biaya untuk membeli 40 buku, kalau diasumsikan harga satu buku USD 50, hanyalah USD 2000 ! Jauh di bawahnya bukan ? Itu sudah hitungan harga buku paling mahal, sebagian besar buku harganya di bawah USD 50, belum lagi kalau meminjam atau membajak <img src='http://www.gayahidupdigital.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</li>
<li><i>Waktu untuk karir terbuang</i><br />
Selain uang, waktu yang mestinya bisa difokuskan untuk mengembangkan karir juga bisa hilang karena mengikuti program MBA. Akibatnya bisa jadi karir kita akan terhambat.
 </li>
</ol>
<p>Ya, tentu juga ada keuntungan-keuntungan dari program MBA sungguhan yang tidak bisa tergantikan. Yang terpenting di antaranya mungkin koneksi. Tapi mengingat perbedaan harga yang sangat jauh di atas, cara belajar mandiri ini tetap merupakan alternatif yang menarik.</p>
<p>Bagi saya pribadi, cara ini bahkan sangat menarik. Mengapa ? Sebab saya adalah pecinta buku, tertarik dengan ilmu MBA, namun berpikir berkali-kali kalau harus mengikuti program MBA sungguhan (sekolah lagi ? Ck ck ck).</p>
<p>Nah, situs Personal MBA ini berisi daftar buku yang perlu kita baca untuk belajar MBA secara mandiri. Tidak usah kuatir akan kekurangan bacaan: di dalamnya terdapat 42 buku ! Hmm, tepatnya sih 41 buku dan 1 majalah. Bidangnya bermacam-macam, mulai dari manajemen waktu pribadi, pemasaran, akuntasi, ekonomi, inovasi, dan sebagainya.</p>
<p>Gawatnya, setelah saya lihat, dari 41 buku itu ternyata saya hanya pernah membaca dua di antaranya (<a href="http://www.amazon.com/Getting-Things-Done-Stress-Free-Productivity/dp/0142000280/sr=8-1/qid=1163984019/ref=pd_bbs_sr_1/104-2583664-6682334?ie=UTF8&amp;s=books">Getting Things Done</a> dan <a href="http://www.amazon.com/Habits-Highly-Effective-People/dp/0743269519/sr=8-1/qid=1163984051/ref=pd_bbs_sr_1/104-2583664-6682334?ie=UTF8&amp;s=books">The 7 Habits of Highly Effective People</a>). Wah, berarti skor saya cuma 2 nih. Bagaimana dengan rekan-rekan ? Mungkin ada yang skornya lebih baik ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2006/11/20/belajar-mba-dengan-personal-mba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ukuran Sukses Membaca</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/14/ukuran-sukses-membaca/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/14/ukuran-sukses-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Oct 2006 18:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[
Berkaitan dengan post Satu Bulan Hanya Satu Buku, saya jadi berpikir, apa sih sebenarnya ukuran sukses dari membaca ? Apakah ukurannya adalah seberapa cepat kita menghabiskan suatu buku ? Kalau seperti itu berarti orang yang bisa membaca paling cepat bisa disebut sebagai orang yang paling sukses dalam membaca. Atau mungkin ukurannya adalah kemampuan untuk memilih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="float: right; margin-top:20px; margin-left: 10px; margin-bottom: 10px;"><a href="http://flickr.com/photos/cwhatuc/61429754/"><img src="http://static.flickr.com/24/61429754_3504a3337a_m.jpg" alt="" style="border: 2px solid rgb(0, 0, 0);"/></a></div>
<p>Berkaitan dengan post <a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/07/03/satu-bulan-hanya-satu-buku/">Satu Bulan Hanya Satu Buku</a>, saya jadi berpikir, apa sih sebenarnya ukuran sukses dari membaca ? Apakah ukurannya adalah seberapa cepat kita menghabiskan suatu buku ? Kalau seperti itu berarti orang yang bisa membaca paling cepat bisa disebut sebagai orang yang paling sukses dalam membaca. Atau mungkin ukurannya adalah kemampuan untuk memilih buku yang tepat ?</p>
<p><span id="more-269"></span>
<p>Setelah saya pikir-pikir, menurut saya ukuran sukses dari membaca adalah <strong>nilai ide</strong> yang dihasilkan per <strong>satuan waktu</strong>. Orang yang sukses dalam membaca adalah orang yang bisa mendapatkan nilai ide sebanyak mungkin dari waktu membacanya. Mengapa saya memakai istilah <em>nilai ide</em> dan bukan <em>jumlah ide</em> ? Sebab setiap ide berbeda-beda kualitasnya. Ada ide yang kualitasnya tinggi dan ada juga yang rendah. Istilah <em>jumlah ide</em> hanya mengacu ke <em>kuantitas</em> ide, sedangkan istilah <em>nilai ide</em> mengacu baik ke <em>kuantitas</em> maupun <em>kualitas</em> ide. Kalau dirumuskan:</p>
<p><center><em>Nilai ide = Kualitas ide 1 + Kualitas ide 2 + â€¦ + Kualitas ide n</em>  , di mana n adalah kuantitas ide yang didapatkan.</center></p>
<p>Misal kualitas ide bisa diukur dalam skala 0-100. Kalau saya mendapatkan tiga ide dengan kualitas 50,70, dan 80, maka total nilai ide yang saya peroleh adalah 200. Dari titik ini saya bisa bergerak lebih jauh lagi untuk mengukur efektivitas membaca, yaitu dengan membagi nilai ide yang diperoleh dengan jumlah waktu yang diinvestasikan. Rumusnya menjadi:</p>
<p><center><em>Efektivitas membaca = Nilai ide / Waktu</em></center></p>
<p>Kalau melihat perbandingan di bidang ekonomi, efektivitas membaca bisa disamakan dengan ROI (<em>return on investment</em>), yaitu ukuran banyaknya hasil yang diperoleh dari investasi yang dilakukan. Hanya bedanya di sini investasinya berupa <em>waktu</em> dan hasilnya berupa <em>ide</em>.</p>
<p>Dengan pengertian ini, tujuan saya membaca saat ini adalah mendapatkan nilai ide sebesar mungkin untuk waktu yang diberikan. Tidak penting lagi apakah saya membaca buku itu secara urut atau acak, secara lengkap atau sebagian, atau berbagai cara lainnya. Yang penting hanya satu saja: <strong>bagaimana mendapatkan nilai ide sebanyak mungkin untuk waktu yang diberikan</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/14/ukuran-sukses-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Talenta Indonesia ke Luar Negeri (2)</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/09/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-2/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/09/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Oct 2006 15:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Bersambung dari Talenta Indonesia ke Luar Negeri (1)
Fakta nomor tiga, talenta yang sama kalau pulang ke negeri sendiri justru kurang dihargai. Dengar-dengar gaji guru besar di perguruan tinggi negeri Indonesia hanya 3-4 juta rupiah sebulan. Sekedar perbandingan, gaji dosen di Singapura diperkirakan 10.000 SGD (58 juta rupiah) ke atas sebulan ! Selain itu, kalau talenta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bersambung dari <a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/07/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-1/">Talenta Indonesia ke Luar Negeri (1)</a></p>
<p><strong>Fakta nomor tiga, talenta yang sama kalau pulang ke negeri sendiri justru kurang dihargai. </strong>Dengar-dengar gaji guru besar di perguruan tinggi negeri Indonesia hanya 3-4 juta rupiah sebulan. Sekedar perbandingan, gaji dosen di Singapura diperkirakan 10.000 SGD (58 juta rupiah) ke atas sebulan ! Selain itu, kalau talenta tadi pulang kemungkinan besar potensinya tidak akan bisa dimanfaatkan 100% di negeri sendiri. Mungkin hanya 50-60% saja karena infrastruktur yang kurang mendukung. Dengan kondisi seperti ini tidak bisa disalahkan kalau talenta-talenta itu pergi ke luar negeri.</p>
<p><span id="more-268"></span>
<p>Saya rasa yang terjadi di Indonesia sekarang seperti ini:</p>
<ol>
<li><em>Ekonomi tidak berjalan efisien</em><br />
Banyak pengangguran terselubung. Pegawai negeri misalnya, banyak yang bisa dirampingkan dan diefisienkan. Pengangguran terselubung ini membebani ekonomi negara.<br />
Akibat lain dari ekonomi yang tidak efisien: orang-orang terbaik tidak bisa mendapatkan kompensasi yang layak karena harus dibagi dengan orang-orang yang hanya &#8220;membebani&#8221; ekonomi.<br />
Tentu juga repot karena kalau dirampingkan bisa menimbulkan demo dan sebagainya akibat masalah pengangguran.</li>
<li><em>Yang naik belum tentu yang terbaik</em><br />
Yang mendapatkan penghargaan dan promosi belum tentu yang terbaik. Bisa jadi orang yang punya koneksi yang justru muncul. Di negara maju, orang benar-benar diukur dari kemampuannya.</li>
</ol>
<p>Panjang juga, jadi capek menulisnya <img src='http://www.gayahidupdigital.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Oya, semua ini bukan berarti saya pesimis dengan Indonesia lho. Saya selalu optimis dengan Indonesia. Hanya kita perlu memperhatikan dengan baik bagian-bagian yang perlu ditingkatkan. Hidup Indonesia !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/09/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Talenta Indonesia ke Luar Negeri (1)</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/07/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-1/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/07/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Oct 2006 03:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya banyak nih yang ingin saya tulis tentang Indonesia, sampai bingung harus mulai dari mana. Okelah, kali ini saya ingin menyoroti tentang banyaknya talenta Indonesia yang &#8220;lari&#8221; ke luar negeri. Ada tiga fakta yang saya sadari belakangan ini.
Fakta nomor satu, ternyata banyak orang Indonesia yang hebat-hebat. Misalnya saja, kita baru-baru ini jadi juara dunia di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya banyak nih yang ingin saya tulis tentang Indonesia, sampai bingung harus mulai dari mana. Okelah, kali ini saya ingin menyoroti tentang banyaknya talenta Indonesia yang &#8220;lari&#8221; ke luar negeri. Ada tiga fakta yang saya sadari belakangan ini.</p>
<p><strong>Fakta nomor satu, ternyata banyak orang Indonesia yang hebat-hebat. </strong>Misalnya saja, kita baru-baru ini jadi <a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/07/18/inspirasi-dari-tim-olimpiade-fisika-indonesia/">juara dunia</a> di Olimpiade Fisika Internasional. Ini sungguh prestasi gemilang. Bayangkan bagaimana rasanya kalau kita kuliah di luar negeri lalu bilang ke orang-orang sana,&#8221;Oya â€¦ tim kami dari Indonesia baru-baru ini jadi juara dunia Olimpiade Fisika Internasional.&#8221; Kan bangga sekali. Kalau kita sedang di Amerika misalnya, itu berarti secara tidak langsung berkata, &#8220;Tim nasionalmu kalah lho dalam lomba akademis dari tim Indonesia.&#8221; <img src='http://www.gayahidupdigital.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Tidak hanya itu, juga banyak orang-orang Indonesia yang hebat di seluruh penjuru dunia. Tidak mungkin dibahas satu per satu.</p>
<p><span id="more-267"></span>
<p><strong>Fakta nomor dua, yang menikmati talenta ini justru negara-negara lain.</strong> <em>Sad but true.</em> Banyak negara yang memang punya kebijakan menyerap talenta dari negara lain. Contohnya Singapura. Coba bayangkan, bagaimana mungkin negara mungil dengan penduduk cuma 4 juta bisa punya cadangan devisa tiga kali lipat Indonesia yang penduduknya 240 juta ? Kan tidak masuk akal.</p>
<p>Salah satu kuncinya ternyata Singapura punya kebijakan untuk menyerap talenta dari negara lain. Mereka berusaha supaya talenta dari negara lain tinggal di Singapura dan memajukan ekonomi mereka. Misalnya saja, di dua universitas terkemuka Singapura yaitu <a href="http://nus.edu.sg/">NUS</a> dan <a href="http://www.ntu.edu.sg/">NTU</a>, mahasiswa asing yang akan lulus <em>otomatis </em>ditawari <em>permanent resident</em> (PR). Biasanya tidak mudah untuk mendapatkan PR, tapi untuk dua universitas ini mahasiswanya justru <em>ditawari </em>! Akibatnya sebagian besar talenta ini tinggal di Singapura dan memajukan ekonomi mereka.</p>
<p>Kalau saya pikir, strategi Singapura kira-kira seperti ini:</p>
<ol>
<li><i>Buat universitas yang bagus supaya menyerap banyak talenta asing</i><br />
Pemerintah sangat mendukung pengembangan universitas. Akibatnya universitas di Singapura ini termasuk yang terbaik di dunia dan banyak talenta dari luar negeri belajar di sana. Pemerintah menyediakan banyak beasiswa, dan kalau pun tidak, biayanya sangat terjangkau.</li>
<li><i>Waktu mereka akan lulus, tangkap dengan menawarkan PR</i><br />
Dengan menawarkan PR, sebagian besar talenta ini bisa ditangkap untuk tetap tinggal di Singapura. Perkiraan sih ada ratusan ribu PR di Singapura.</li>
<li><i>Buat mereka betah supaya tidak pergi</i><br />
Situasi dibuat kondusif untuk orang asing. Lingkungan aman dan transportasi sangat mudah dan modern. Semua petunjuk disediakan dalam bahasa Inggris dan sebagian besar penduduk (terutama generasi mudanya) bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Akibatnya orang bule pun banyak yang betah untuk tinggal bertahun-tahun di sini.</li>
<li><i>Berikan kompensasi yang menarik</i><br />
Tentu ini juga penting untuk menyerap talenta asing. Standar gaji di Singapura sudah hampir sama dengan Eropa atau Amerika dengan biaya hidup yang lebih rendah.</li>
</ol>
<p>Dengan empat langkah di atas, negara mungil ini jadi memiliki banyak tenaga ahli. Dan semua tenaga ahli ini dimanfaatkan secara maksimal. Selalu ada saja hal-hal baru yang dibangun.</p>
<p>Bersambung ke <a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/09/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-2/">Talenta Indonesia ke Luar Negeri (2)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2006/10/07/talenta-indonesia-ke-luar-negeri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Post tentang Membaca</title>
		<link>http://www.gayahidupdigital.com/2006/09/29/kumpulan-post-tentang-membaca/</link>
		<comments>http://www.gayahidupdigital.com/2006/09/29/kumpulan-post-tentang-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Sep 2006 01:14:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gayahidupdigital.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya ingin menulis post baru, tapi sayang saya sedang harus pergi dan tidak sempat menuliskan post baru. Sebagai gantinya, di sini saya berikan kumpulan post-post tentang kebiasaan dan teknik membaca yang pernah saya tulis di blog ini, sekalian untuk penyegaran  .

Tidak terasa, ternyata sudah ada 11 post yang saya tulis berkaitan dengan membaca. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya saya ingin menulis post baru, tapi sayang saya sedang harus pergi dan tidak sempat menuliskan post baru. Sebagai gantinya, di sini saya berikan kumpulan post-post tentang kebiasaan dan teknik membaca yang pernah saya tulis di blog ini, sekalian untuk penyegaran <img src='http://www.gayahidupdigital.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><span id="more-265"></span>
<p>Tidak terasa, ternyata sudah ada 11 post yang saya tulis berkaitan dengan membaca. Ini dia daftarnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2004/11/18/must-read-books/">Must Read Books</a>
</li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2004/11/28/ide-per-menit/">Ide per Menit</a></li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2005/03/18/daftar-buku/">Daftar Buku</a></li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2005/07/23/kebiasaan-membaca/">Kebiasaan Membaca</a></li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/02/11/daftar-bacaan/">Daftar Bacaan</a>
</li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/02/28/asyiknya-membaca/">Asyiknya Membaca</a>
</li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/03/27/bagaimana-agar-suka-membaca/">Bagaimana Agar Suka Membaca ?</a>
</li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/03/30/cara-mencari-buku-menarik/">Cara Mencari Buku Menarik</a>
</li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/05/09/rencana-membaca-mei-2006/">Rencana Membaca Mei 2006</a></li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/06/29/motivasi-cara-agar-suka-membaca/">Motivasi &#8211; Cara Agar Suka Membaca</a>
</li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/07/03/satu-bulan-hanya-satu-buku/">Satu Bulan Hanya Satu Buku</a>
</li>
<li><a href="http://www.gayahidupdigital.com/2006/09/12/tips-membaca-cepat-1/">Tips Membaca Cepat</a></li>
</ul>
<p>Mudah-mudahan semua post ini bisa memberikan kontribusi untuk meningkatkan minat dan daya baca kita. Selamat membaca !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gayahidupdigital.com/2006/09/29/kumpulan-post-tentang-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

