Satu Senti Menuju Sukses

Saya sangat menyukai ungkapan ini:

Sukses itu dibangun senti demi senti, setiap hari.

Jadi sukses itu tidak datang secara sekaligus, juga tidak datang secara mendadak, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, senti demi senti, setiap hari.

Satu senti setiap hari ini berbicara mengenai hal-hal yang kita lakukan secara berdisiplin setiap harinya, hal-hal yang sederhana. Banyak orang yang saat melihatnya akan berkata, “Ah, apa sih ? Cuma satu senti, apa artinya ?” Memang kalau dilihat sekilas, tidak ada perbedaan antara orang yang rajin membangun senti demi senti dengan orang yang hidupnya asal-asalan. Orang yang melihatnya akan berkata, “Ah, sama saja, tidak ada perbedaan.” Memang betul, pada awalnya akan terlihat sama saja, tidak ada perbedaan. Tapi tunggulah lima tahun lagi, orang yang terus membangun senti demi senti akan sudah mencapai ketinggian sepuluh meter, sementara yang asal-asalan hanya tiga meter ! Tunggulah sepuluh tahun lagi, maka perbedaannya akan semakin mencolok ! Luar biasa.

Karena itu cobalah temukan satu senti kita masing-masing, lalu lakukanlah dengan setia. Mengapa ? Karena sukses itu dibangun senti demi senti, setiap hari.

Bos Perusahaan Kita Sendiri

Saya mendapatkan paradigma baru dari buku Accelerated Learning for the 21st Century, yaitu bahwa setiap kita sebenarnya adalah bos dari perusahaan kita sendiri. Kalau pun saat ini kita bekerja di suatu perusahaan, kita sebenarnya bukanlah karyawan dari perusahaan itu. Justru perusahaan itulah yang sebenarnya merupakan client/customer kita !

Paradigma ini membukakan hal-hal yang baru. Mental kebergantungan kepada orang lain sudah bukan jamannya lagi. Kita sendirilah yang bertanggungjawab untuk mengembangkan perusahaan pribadi kita. Kita harus berusaha menjual produknya kepada banyak customer dan terus mengembangkan perusahaan. Dan, berkaitan dengan posting saya sebelumnya, idealnya kita tentu harus menjadi perusahaan yang visioner ! Dan itu tidak mudah.

Nah, sekarang saya melihat diri saya sendiri. Ternyata saat ini saya hanya punya satu customer, yaitu tempat saya bekerja sekarang. Apakah sehat kalau suatu perusahaan hanya punya satu customer ? Tentu saja tidak ! Sangat aneh dan bahkan tidak masuk akal kalau suatu perusahaan hanya punya satu customer. Karena itu, tahun depan sepertinya saya harus bergerak mencari customer-customer baru. Tentu saja customer yang ada sekarang tetap harus dilayani dengan baik karena customer satisfaction itu penting, tapi saya juga harus bergerak mencari customer baru untuk mengembangkan perusahaan. Bukankah seharusnya demikian ?

(Bukan) Perusahaan Visioner

Saya barusan baca-baca buku Built to Last. Bagus banget ! Isinya tentang kebiasaan-kebiasaan sukses dari perusahaan visioner. Perusahaan visioner di sini adalah perusahaan yang jadi icon di bidangnya masing-masing, memiliki kinerja yang mengagumkan, sudah berusia minimal lima puluh tahun, dan memberikan dampak besar bagi kehidupan banyak orang.

Yang hebat adalah prinsip-prinsip yang dikemukakan di buku ini. Rasanya prinsip-prinsip tersebut sangat tepat dan langsung mengenai sasaran ! Maklum, ini hasil penelitian selama enam tahun di Stanford ! Luar biasa. Hasil penelitian besar selama enam tahun yang disarikan menjadi sebuah buku !

Penelitian mereka ini bertujuan menemukan prinsip-prinsip abadi yang membedakan perusahaan visioner dari perusahaan-perusahaan lainnya. Dan saya katakan, penelitian mereka sangat berhasil. Membaca prinsip dan contoh-contoh yang dikemukakan rasanya sangat membuka mata.

Nah, habis baca-baca tadi saya coba merenungkan keadaan di tempat saya bekerja sekarang. Rupanya kantor saya ini sama sekali bukan perusahaan visioner :( Prinsip-prinsip perusahaan visioner sama sekali tidak dimiliki.

Contohnya, perusahaan visioner memiliki ideologi inti yang sangat kuat. Ideologi inti inilah yang menjadi tenaga penggerak utama bagi perusahaan visioner. Di tempat saya ? Well, sama sekali tidak pernah dibicarakan mengenai ideologi inti, visi-misi, dan sejenisnya.

Contoh lainnya, bagi perusahaan visioner meraih laba sebesar-besarnya bukanlah tujuan utama. Seperti kata David Packard (pendiri HP): “Laba bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai tujuan akhir.” Mereka punya tujuan-tujuan lain yang lebih mulia seperti “memberikan kebahagiaan kepada jutaan manusia” (Disney). Di tempat saya ? Well, tujuan utamanya adalah maksimisasi laba. Jelas sekali. Ini tercermin dari berbagai tindakan dan kebijakan yang diambil. Sama sekali tidak ada pembicaraan mengenai “tujuan lain yang lebih mulia”.

Jadi, seperti saya katakan tadi, tempat saya ini rupanya memang bukan perusahaan visioner :(

Dunia Persilatan

Kalau dipikir-pikir, perjalanan seseorang belajar komputer itu mirip seperti dunia persilatan. Ibaratnya, saat kita kuliah Informatika itu sama seperti seseorang yang sedang belajar kungfu di kuil Dairin (kuil di komik Kungfu Boy :) ). Tapi itu belum apa-apa. Lulus kuliah Informatika itu seperti seseorang yang baru menyelesaikan tahap awal belajar kungfu di kuil Dairin. Setelah itu, ia harus berkelana menimbah ilmu dari banyak guru. Kalau dulu di kuil ia mungkin murid yang paling berbakat, sekarang ia akan sadar bahwa di luar sana ternyata banyak pendekar yang jauh lebih hebat. Nah, ia harus merendahkan dirinya untuk belajar dari banyak orang.

Di dunia komputer, menurut saya, salah satu tempat yang terbaik untuk belajar dari para pendekar adalah di milis. Di milis A kita akan belajar dari pendekar-pendekar yang paling jago ilmu A, dan di milis B kita akan belajar dari pendekar-pendekar yang paling jago ilmu B. Ini seperti di dunia persilatan di mana ada pendekar-pendekar tertentu yang paling jago ilmu pedang, dan ada pendekar-pendekar lainnya yang paling jago ilmu tombak. Kita bisa belajar dari keduanya.

Nah, di milis itu kita bisa belajar, berlatih, dan mengadu ilmu dengan pendekar-pendekar lainnya. Memang awalnya kita bukan apa-apa, namun kalau kita terus tekun belajar dan berlatih, niscaya ilmu kita akan meningkat sehingga kita bisa menjadi salah satu pendekar utama di bidang itu.

Cara lainnya untuk belajar dari para guru adalah dengan membaca tulisan-tulisan mereka. Tulisan-tulisan ini bisa berupa buku, artikel, atau – yang sekarang sedang naik daun – berupa blog. Dari tulisan-tulisan ini kita bisa belajar bagaimana cara mereka berpikir dan berkarya. Bahkan kita juga bisa belajar mengenai hal-hal lainnya seperti bagaimana caranya mereka sendiri belajar dan berlatih.

Singkatnya, belajar komputer adalah suatu perjalanan yang panjang seperti seseorang yang sedang terjun di dunia persilatan. Namun, kalau kita tekun belajar dan berlatih serta selalu mau merendahkan diri untuk belajar dari orang lain, pada akhirnya kita pasti akan menjadi seorang pendekar yang kenamaan !

Pixar

Saya nih termasuk orang yang ngefans berat dengan Pixar (perusahaan pembuat film animasi Hollywood). Menurut saya, mereka itu luar biasa ! Kalau mereka membuat film, wow, sangat memukau dan hebat ! Misalnya saja film Finding Nemo. Saya sangat suka film itu. Kalau dilihat dari sisi teknologinya, membuat film seperti itu luar biasa sulitnya. Namun toh, mereka berhasil membuatnya dengan detail dan ketelitian yang mengagumkan. Belum lagi penggambaran karakternya yang benar-benar hidup. Belum lagi jalan ceritanya yang mengesankan. Belum lagi … belum lagi … ya, nggak ada habis-habisnya :)

Menurut saya, Pixar merupakan salah satu contoh nyata dari spirit of excellence. Spirit of excellence berarti mereka benar-benar mengerjakan segala sesuatunya dengan standar yang sangat tinggi, harus perfect dan excellent, tidak boleh ada celah sedikit pun ! Inilah sesuatu yang seringkali saya lihat pada para pembuat film Hollywood. Kata kuncinya adalah the best, only the best, and nothing but the best.

Seharusnya kita semua mempunyai spirit of excellence. Kalau saja kita mempunyainya, wow, hal-hal luar biasa pasti akan terjadi !

'Ide per menit'

Baru-baru ini, di salah satu buku tentang cara belajar (judulnya saya lupa) saya menemukan suatu konsep yang menarik tentang cara membaca yang efektif. Selama ini biasanya orang-orang diukur kemampuan membacanya dengan ‘kata per menit’, yaitu berapa banyak kata yang bisa dibacanya dalam satu menit. Tapi buku itu menunjukkan bahwa fokus kita dalam membaca seharusnya bukan ‘kata per menit’ melainkan ‘ide per menit’, yaitu banyaknya ide yang bisa kita tangkap dalam satu menit.

Konsep ini menarik karena mengubah fokus kita dari sekedar membaca kata-kata yang terdapat dalam buku menjadi berusaha menangkap ide sebanyak-banyaknya dari bacaan tersebut. Kata per katanya malah menjadi kurang penting ; yang penting adalah idenya. Hebatnya lagi, kalau kita membaca dengan cara seperti ini, kecepatan membaca kita pasti juga akan meningkat dengan sendirinya. Kenapa bisa begitu ? Karena fokus kita bukan lagi pada kata per kata melainkan pada idenya, bukan lagi membaca setiap huruf melainkan menangkap idenya secara keseluruhan. Dengan demikian, kita bisa membaca lebih cepat namun sekaligus juga menangkap lebih banyak. Ideal bukan ?

Nah, karena itulah saya sekarang mulai belajar membaca dengan cara seperti ini. Bukan ‘kata per menit’ melainkan ‘ide per menit’. Bukan terfokus pada kata per kata, melainkan pada ide yang disampaikan.

Surely You’re Joking Mr. Feynman

Saya baru saja baca-baca buku yang bagus sekali, judulnya Surely You’re Joking, Mr. Feynman! (maklum lagi libur, jadinya ya banyak baca :) ). Sebenarnya sih saya udah pernah baca buku ini sebelumnya (edisi bahasa Indonesia berjudul Cerdas Jenaka ala Nobelis Fisika), tapi kebetulan lagi pingin baca-baca lagi.

Buku ini menceritakan tentang petualangan hidup Richard P. Feynman, ahli fisika Amerika pemenang hadiah Nobel. Dan satu kesan yang saya tangkap, Richard Feynman ini benar-benar hebat ! Dia itu jenius, tapi juga sangat fun dan asyik !

Saat baca buku ini, rasanya kita jadi punya gambaran bagaimana caranya seorang jenius itu berpikir. Benar-benar suatu dimensi yang berbeda ! Dan jadi kagum-kagum sendiri sambil berkata dalam hati, “Kok bisa ya dia berpikir seperti itu ?” Apalagi karena orangnya fun dan asyik, jadinya ya seru banget. Dari sini kita bisa melihat, betapa menyenangkannya dunia sains itu !

Pokoknya buku ini benar-benar menginspirasikan. Saya rasa ini buku wajib untuk orang-orang yang suka sains dan teknologi. Dari sini mereka bisa melihat dimensi yang baru dalam berpikir dan sekaligus merasakan asyiknya sains. Ini akan memberi banyak inspirasi. Tak heran kalau diskusi Slashdot tanggal 22 Mei 2003 berjudul The Best of Popular Science? juga menyebutkan buku ini sebagai suatu buku wajib !

Must Read Books

Ada buku-buku tertentu yang saya rasa sangat bagus dan perlu dibaca berulang-ulang. Ini adalah buku-buku yang menurut saya termasuk dalam kategori ‘sangat perlu untuk diterapkan’ dalam kehidupan sehari-hari. Karena ‘sangat perlu untuk diterapkan’, maka tentu saja saya harus memastikan bahwa saya tidak lupa dan terus belajar untuk menerapkannya.

Buku-buku tersebut berada pada bidang pengembangan pribadi, dan sampai saat ini ada tiga buku yang masuk dalam kategori ‘sangat perlu untuk diterapkan’ ini, yaitu: The 7 Habits of Highly Effective People, The 21 Irrefutable Laws of Leadership, dan Thinking for a Change.

Ketiga buku itu berisi hikmat-hikmat yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. The 7 Habits of Highly Effective People membahas tentang kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikembangkan agar kita bisa menjadi orang yang sangat efektif. The 21 Irrefutable Laws of Leadership membahas tentang hukum-hukum kepemimpinan yang sangat tepat dan aplikatif untuk meningkatkan kepemimpinan kita. Sedangkan Thinking for a Change membahas tentang pentingnya cara berpikir dalam pencapaian sukses dan memberikan petunjuk sebelas cara berpikir yang diubahkan.

Semua ini menurut saya sangat perlu, dan kalau benar-benar diterapkan, akan membawa dampak yang luar biasa dalam hidup kita. Karena itulah saya merasa perlu membaca buku-buku tersebut berulang-ulang agar dapat benar-benar menerapkannya dalam kehidupan.

Disiplin

Apa sih yang membedakan satu orang dari orang lainnya ? Maksud saya, apa sih yang membuat seseorang bisa mencapai begitu banyak dalam hidupnya sementara yang lain tidak ? Saya percaya bahwa jawabannya adalah disiplin. Orang yang memiliki disiplin dalam hidupnya akan mencapai jauh lebih banyak dibandingkan orang yang tidak disiplin. Beberapa waktu yang lalu saya terpikirkan peribahasa ini:

Given the same facilities, what makes the difference
between one people to another is discipline.

Maksudnya, bila dua orang diberikan fasilitas yang sama (misalnya sama-sama diberikan fasilitas Internet 24 jam), maka yang akan membuat perbedaan sehingga satu orang mendapatkan kemajuan begitu pesat sementara yang lain tidak adalah disiplin dari orang itu. Yang satu secara disiplin berusaha mengembangkan dirinya hari demi hari menggunakan fasilitas yang tersedia sementara yang lainnya tidak. Memang dalam jangka pendek seolah-olah tidak ada perbedaan antara keduanya. Tapi dalam jangka panjang, akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok.

Hal ini berlaku tidak hanya dalam hal mengembangkan diri saja, tapi juga dalam hal-hal lainnya seperti keuangan. Orang yang disiplin dalam hal keuangan dalam jangka panjang akan menikmati perbedaan yang sangat mencolok dibandingkan dengan orang yang tidak disiplin.

Liburan nih

Hari ini adalah awal dari liburan Idul Fitri selama sekitar dua minggu. Cukup lama kan ? Karena itu saya juga ingin memanfaatkan liburan ini dengan baik. Apa saja ya yang bakalan saya lakukan selama liburan ini ?

Hmm … yang pasti agenda utamanya adalah mengerjakan tesis. Dalam dua minggu ini saya ingin menyelesaikan uji coba – uji coba tesis yang harus dilakukan, plus menyelesaikan paper yang bakal dimasukkan ke jurnalnya STTS. Pokoknya saya akan bekerja semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tesis :)

Selain itu saya juga ingin banyak membaca. Ada banyak buku yang masih ngantri untuk dibaca, dan kayaknya liburan ini waktu yang sangat baik untuk membaca buku-buku itu, apalagi karena setelah liburan saya bakalan sibuk (ada banyak presentasi mahasiswa yang menanti :( ). Buku apa ya yang bakalan saya baca ? Hehe, yang ini sih masih saya pikirkan, belum tahu nih :)