Kunci Sukses Silicon Valley

Belum lama ini saya membaca sebuah artikel menarik. Di situ diceritakan tentang bagaimana PM Inggris Tony Blair ingin mengetahui apa sebenarnya kunci keberhasilan dari Silicon Valley. Ini karena di Inggris sama sekali tidak ada perusahaan teknologi yang besar sedangkan di Silicon Valley ada begitu banyak perusahaan teknologi besar seperti Apple, Google, dan Yahoo.

Untuk menjawab keingintahuan ini, Tony Blair berjumpa dengan beberapa tokoh Silicon Valley seperti Steve Jobs (dari Apple) dan John Chambers (dari Cisco). Bagi saya yang menarik adalah hasil dari diskusi ini. Kalau disimpulkan, ternyata kunci sukses dari Silicon Valley adalah budaya mengambil risiko (risk-taking culture) dan hubungan yang dekat dengan universitas (close ties with universities).

Tentang budaya mengambil risiko, dikatakan bahwa kegagalan tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk di Silicon Valley. Sebaliknya, orang yang gagal dipandang sebagai seseorang yang telah belajar sesuatu yang lebih. Hal ini berbeda dengan keaadaan di sebagian besar tempat lainnya (termasuk Indonesia ?). Di tempat-tempat lain itu orang yang gagal dipandang sebagai … ya, orang yang gagal. Akibatnya mereka jadi tidak berani mengambil risiko yang memungkinkan terjadinya inovasi.

Hal yang kedua adalah hubungan yang dekat dengan universitas (dalam kasus Silicon Valley, universitasnya adalah Berkeley dan Stanford). Kok bisa ? Sebab dari universitas inilah muncul talenta-talenta yang menciptakan inovasi. Tentu yang dimaksud di sini bukanlah sembarang universitas, melainkan universitas top yang bisa menarik talenta-talenta terbaik dari seluruh dunia. Jadi universitas di sini berperan sebagai magnet untuk menarik talenta terbaik, dan setelah mereka lulus … bum ! Terjadilah inovasi dalam industri.

Saya penasaran … mungkin tidak ya hal-hal seperti ini terjadi di Indonesia ?