Ilmu Terpenting

Apakah ilmu yang terpenting ? Tentu saja setiap orang bisa mempunyai jawabannya sendiri-sendiri, karena istilah “ilmu terpenting” ini juga bisa dilihat dari banyak sisi. Namun di sini saya ingin melihatnya dari sisi gaya hidup digital. Dalam gaya hidup digital, kira-kira ilmu apakah yang terpenting ?

Satu ciri yang kental dalam gaya hidup digital adalah perubahan yang begitu cepat. Rasanya hal-hal baru selalu datang silih berganti. Belum selesai belajar satu hal, hal yang baru sudah muncul. Baru saja mempelajari teknologi A, teknologi B sudah muncul. Dalam keadaan yang seperti ini, ilmu apakah yang terpenting ?

Continue reading Ilmu Terpenting

Mengapa India Lebih Maju dari Indonesia ?

Beberapa hari libur kemarin saya gunakan untuk terus membaca buku The World is Flat. Dalam buku itu berkali-kali disebutkan bagaimana India begitu piawai mengambil kesempatan dalam globalisasi 3.0. Banyak perusahaan multinasional mempercayakan sebagian pekerjaannya (istilahnya outsourcing) kepada India, karena biaya tenaga kerja India jauh lebih murah daripada tenaga kerja Barat dengan kemampuan yang baik. Malahan banyak orang Amerika sendiri kuatir pekerjaan mereka akan diambil alih oleh orang India !

Continue reading Mengapa India Lebih Maju dari Indonesia ?

Serunya The World is Flat

Saya sekarang sedang membaca buku The World is Flat (buku ketiga dalam daftar bacaan saya) dan harus saya katakan bahwa buku itu bagus sekali ! Saya begitu bersemangat waktu membacanya sehingga terkadang serasa ingin melompat-lompat :) (memang ada kalanya saya merasa begitu excited dengan apa yang saya baca, misalnya saja waktu saya membaca transkrip pidato Steve Jobs di wisuda Stanford – lihat post Steve Jobs – Pelajaran Kehidupan).

Apa yang membuat saya begitu bersemangat ? Yaitu kenyataan bahwa saya sekarang mempunyai kesempatan yang sama dengan orang-orang di seluruh dunia untuk bersaing secara global (lihat juga post Globalisasi 3.0). Tidak perlu lagi saya tinggal di Amerika atau di Inggris untuk bisa bersaing secara global. Dalam dunia yang datar ini, saya bisa sukses secara mendunia dengan tetap tinggal di Indonesia. Kisah-kisah yang dipaparkan dalam The World is Flat menggambarkan dengan jelas tentang hal ini. Tentu saja, untuk bisa berhasil kita juga harus memiliki kompetensi yang diakui secara global. Namun toh, kesempatan yang begitu besar ini belum pernah ada sebelumnya dan inilah yang membuat saya begitu bersemangat !

Thought Leadership

Belum lama ini saya mendengar sebuah konsep baru yang menarik bagi saya, yaitu thought leadership. Thought leadership adalah sebuah konsep di mana seseorang menjadi pemimpin di suatu bidang melalui ide-ide dan pemikirannya. Ia membawa orang-orang di bidangnya ke wilayah-wilayah yang baru melalui berbagai ide dan pemikirannya, dan oleh karena itu kepemimpinan jenis ini disebut dengan istilah “thought” leadership.

Bagi saya konsep ini sangat menarik karena memang salah satu cita-cita saya adalah menjadi thought leader. Inilah sebuah istilah yang tepat untuk menggambarkan cita-cita saya ! Dengan menjadi thought leader berarti kita bisa menginspirasi orang lain untuk bersama-sama bergerak ke arah yang lebih baik.

Dalam artikel berjudul Thought Leadership, Brian Fling memberikan beberapa langkah awal yang dapat kita lakukan untuk menuju thought leadership, yaitu:

  1. Start a blog
    Blog adalah sarana yang tepat untuk mempublikasikan ide dan pemikiran kita. Dengan blog kita bisa berbicara kepada banyak orang sekaligus.
  2. Start small
    Mulailah dengan hal yang kecil dan bangunlah perlahan-lahan dari situ. Tidak mungkin kita bisa langsung mencapai hal-hal yang besar.
  3. Create a publishing calendar
    Tentukan jadwal yang tetap untuk menulis post baru dan pegang baik-baik. Seiring dengan berjalannya waktu kita bisa meningkatkan frekuensi post kita.
  4. Know your audience
    Kenali pengunjung situs kita, misalnya apa saja yang mereka anggap menarik. Ini membantu kita untuk bisa membagikan hal-hal yang berguna.
  5. Turn on comments
    Adanya fitur komentar di blog kita memungkinkan terjadinya komunikasi yang terbuka, baik antara kita dan pengunjung maupun antar sesama pengunjung.
  6. Write guidelines
    Tuliskan panduan etiket untuk blog kita agar diketahui semua pengunjung. Ini memungkinkan semua orang memberikan kontribusi yang sehat.
  7. Stand by your principles
    Pegang baik-baik prinsip yang kita tetapkan, termasuk panduan etiket yang telah kita buat.

Saya senang karena langkah-langkah yang dipaparkan oleh Brian Fling ini sangat blog-friendly ! Ini berarti semua orang bisa melakukannya, karena semua orang bisa membuat blog. Memang semuanya itu hanyalah langkah awal, masih perlu perjalanan panjang untuk mencapai thought leadership. Namun, bukankah perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama ?

Bagaimana Agar Suka Membaca ?

Kalau Anda mengikuti blog ini, Anda tentu tahu bahwa saya sering menekankan pentingnya membaca. Saya pernah menulis post Kebiasaan Membaca di mana saya mencontohkan bagaimana orang-orang di Amerika mengganggap membaca sebagai pengisi waktu luang yang paling mereka sukai. Baru-baru ini saya juga menulis post Asyiknya Membaca di mana saya menggambarkan bagaimana asyiknya membaca, sekaligus membandingkan selera membaca orang Indonesia dengan orang luar negeri. Masih banyak lagi post lainnya di mana saya secara tidak langsung menekankan pentingnya membaca.

Namun begitu ada satu pertanyaan yang menggelitik pemikiran saya: bagaimana caranya agar orang-orang suka membaca ? Bukan sekedar membaca komik atau novel tentunya, namun juga bacaan-bacaan lain yang bermutu. Atau bisa juga pertanyaan ini diajukan dalam bentuk lain: bagaimana caranya menanamkan kebiasaan membaca ? Apa sih sebenarnya yang menghambat kebiasaan membaca ?

Terus terang saya sendiri belum menemukan jawabannya. Nah, untuk ini saya ingin tahu pendapat dari rekan-rekan. Rekan-rekan bisa memberikan pendapat melalui bagian komentar dari post ini. Saya yakin melalui diskusi ini kita akan menemukan titik terang.

Hebatnya Malcolm Gladwell

Akhirnya selesai juga membaca buku Blink karangan Malcolm Gladwell. Sebenarnya saya sudah sempat menghabiskan 90% buku itu berbulan-bulan yang lalu, namun sisa 10%-nya tertunda dan baru saja saya selesaikan.

Satu hal yang saya kagumi dari Gladwell adalah kemampuannya dalam memilih topik. Dalam kedua bukunya, baik The Tipping Point maupun Blink, ia selalu memilih topik yang unik, yang lewat dari perhatian orang banyak, namun yang sesungguhnya merupakan topik yang sangat menarik. Dalam The Tipping Point misalnya, Gladwell mengupas fenomena epidemi sosial, yaitu bagaimana sesuatu yang tampaknya biasa saja tiba-tiba bisa meledak dan menjadi trend. Sedangkan dalam Blink, Gladwell mengupas tentang fenomena kesan sekejap, di mana orang bisa memberikan penilaian tentang suatu hal hanya dalam sekejap mata. Terus terang saya rasanya tidak akan mungkin terpikirkan tentang topik-topik semacam itu ! Berbeda sekali dengan kebanyakan buku yang topiknya sangat mudah ditebak seperti “rahasia menjadi kaya”, “tips sukses dalam pekerjaan”, dan sejenisnya.

Hebatnya lagi, topik yang unik itu bisa dikupas dengan sangat mendalam sampai membuat orang “hanyut”. Siapa sangka topik tentang kesan sekejap misalnya, bisa dikupas sampai seperti itu. Begitu pula topik tentang epidemi sosial yang benar-benar dibongkar sampai ke akar-akarnya. Dari sini tampak bahwa Gladwell memiliki kemampuan pengembangan ide yang luar biasa. Ide awal yang tampaknya sederhana bisa dikembangkan sampai begitu mendalam.

Dan satu hal lagi yang saya acungi jempol adalah kedalaman risetnya. Untuk menulis satu buku Gladwell melakukan riset yang sangat tekun dan mendalam. Selain membaca sangat banyak literatur, ia juga mewawancarai banyak narasumber secara langsung. Tidak heran contoh-contoh yang diberikan dalam kedua bukunya begitu orisinil, bervariasi dan memikat.

Saya yakin saya bisa belajar banyak dari Malcolm Gladwell. Setidaknya untuk ketiga hal ini, yaitu kemampuan pemilihan topiknya, pengembangan idenya, dan kedalaman risetnya. Dengan kualitas seperti itu tidak heran kedua bukunya langsung menjadi best-seller. Dan yang lebih hebat lagi, majalah TIME sudah memilihnya sebagai salah satu orang paling berpengaruh di jaman ini, padahal ia baru menulis dua buah buku !

Konsep Getting Things Done (4)

Bersambung dari Konsep Getting Things Done (3)

  1. Organize
    Setelah kita memproses semua stuff yang ada dan menempatkannya ke tujuh tempat yang mungkin (trash tidak dihitung), selanjutnya kita perlu menyusun item-item yang terdapat di berbagai tempat tersebut. Yang paling banyak item-nya kemungkinan besar adalah next actions (normalnya berkisar antara 50 sampai lebih dari 100 item) , karena itu item-item dalam next actions inilah yang paling memerlukan penyusunan lebih lanjut. Cara penyusunan yang dianjurkan untuk next actions adalah dengan mengelompokkannya berdasarkan konteks. Apa yang itu konteks ? Konteks adalah situasi yang memungkinkan kita untuk melakukan tugas tertentu. Berikut ini beberapa contoh konteks:

    • Home: untuk hal-hal yang hanya dapat dikerjakan di rumah.
    • Office: untuk hal-hal yang hanya dapat dikerjakan di kantor.
    • Call: untuk hal-hal yang memerlukan akses telepon.
    • Internet: untuk hal-hal yang memerlukan akses Internet.

    Dengan mengelompokkan item-item berdasarkan konteks, kita bisa dengan cepat melihat hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan dalam situasi tertentu. Kalau kita sedang ber-Internet misalnya, dengan cepat kita bisa melihat daftar item yang ada di kelompok Internet.

  2. Review
    Meskipun kita sudah memproses semua stuff dan menempatkannya di tempat yang sesuai, namun akan sia-sia kalau kita tidak pernah melihat ulang semua tempat tersebut. Dalam kegiatan sehari-hari hanya ada dua tempat yang perlu dilihat, yaitu calendar (untuk hal-hal yang harus dilakukan di waktu tertentu) dan next actions (untuk hal-hal yang dapat dilakukan tanpa terikat waktu). Namun demikian, disarankan ada waktu khusus seminggu sekali untuk me-review seluruh sistem kita. Waktu khusus ini disebut dengan istilah weekly review di mana kita mengosongkan kembali pikiran kita dari semua stuff yang beterbangan dan memperbarui ulang seluruh sistem kita.
  3. Do
    Satu hal yang masih kurang adalah: bagaimana cara kita memilih tindakan yang harus dilakukan ? Bagaimana cara kita memilih satu dari begitu banyak pilihan next actions untuk dikerjakan ? Ada empat kriteria yang bisa kita digunakan (diurutkan mulai dari yang terpenting):

    1. Context: dengan situasi sekarang, apa saja yang bisa kita kerjakan ? Hal ini sesuai dengan pengelompokkan next actions pada tahap Organize.
    2. Time available: dengan waktu yang tersedia, apa yang bisa kita kerjakan ? Contohnya: kalau hanya ada waktu 10 menit, carilah hal-hal yang bisa dikerjakan dalam 10 menit.
    3. Energy available: dengan energi yang tersedia, apa yang bisa dikerjakan ? Contohnya: kalau kita sudah lelah di sore hari, pilihlah hal-hal yang mudah untuk dikerjakan.
    4. Priority: dari pilihan yang tersisa, mana yang paling penting untuk dikerjakan ?

    Empat kriteria ini dijalankan mulai dari kriteria pertama. Misalnya saja ada 100 pilihan next actions, kriteria pertama akan menyempitkannya menjadi 15 pilihan, lalu kriteria kedua menyempitkannya lagi menjadi 6 pilihan, kriteria ketiga menyempitkannya lagi menjadi 3 pilihan, dan kriteria keempat menghasilkan 1 pilihan akhir.

Demikianlah kelima tahap implementasi dari GTD, yaitu collect, process, organize, review dan do. Sekarang terserah pada kita untuk bisa menerapkan GTD semaksimal mungkin !

Konsep Getting Things Done (3)

Bersambung dari Konsep Getting Things Done (2)

  1. Process
    Setelah semua stuff dikumpulkan, selanjutnya kita harus memproses semua stuff itu satu per satu. Untuk setiap stuff, kita harus mengambil keputusan mengenai apa yang hendak kita lakukan mengenai hal itu dan kemudian meletakkannya di tempat yang sesuai.
    Untuk itu, pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah: apakah ada tindakan fisik yang perlu lakukan ? Jika jawabannya tidak, maka ada tiga tempat yang mungkin, yaitu:

    • Trash: untuk hal-hal yang ternyata tidak penting, yang lebih baik langsung kita buang.
    • Someday/maybe: untuk hal-hal yang mungkin akan kita lakukan kalau ada kesempatan di masa depan. Contohnya: berlibur ke Bali.
    • Reference: untuk hal-hal yang sekedar ingin kita simpan sebagai referensi, siapa tahu di masa depan kita membutuhkannya. Contoh: informasi tentang sebuah biro perjalanan.

    Jika jawaban untuk pertanyaan pertama tadi adalah ya (yang berarti ada tindakan fisik yang perlu dilakukan), maka ada lima tempat yang mungkin, yaitu:

    • Projects: untuk hal-hal yang membutuhkan lebih dari satu tindakan fisik. Contoh: renovasi rumah, karena terdiri dari banyak tindakan fisik seperti membersihkan garasi, membeli cat, mengecat dinding, dan sebagainya.
    • Project plans: untuk hal-hal (berupa ide dan informasi) yang mendukung pelaksanaan suatu project.
    • Waiting: untuk hal-hal yang hasilnya sedang kita tunggu dari orang lain. Contoh: laporan hasil penjualan yang sedang dikerjakan orang lain.
    • Calendar: untuk hal-hal yang harus dikerjakan pada suatu waktu tertentu. Contoh: rapat pada hari Senin jam 10 pagi.
    • Next Actions: untuk tindakan fisik yang akan segera kita lakukan begitu kita mempunyai kesempatan tapi tidak terikat pada waktu tertentu. Contoh: menelpon seorang partner.

    Untuk jawaban ya ada satu tambahan aturan lagi, yaitu kalau tindakan itu bisa dilakukan dalam waktu kurang dari dua menit maka lakukanlah sekarang juga !
    Untuk jelasnya Anda bisa melihat gambar berikut:

Bersambung ke Konsep Getting Things Done (4)

Konsep Getting Things Done (2)

Bersambung dari Konsep Getting Things Done (1)

Untuk mengeluarkan stuff dari pikiran kita, ada dua hal yang perlu dilakukan:

  1. Menulis satu per satu semua hal yang perlu kita lakukan, dan
  2. Mengambil keputusan tentang setiap hal itu

Satu hal yang penting, agar pikiran kita tidak perlu lagi mengingat-ingat, maka semuanya ini harus dituangkan dalam bentuk tertulis. Dengan demikian pikiran kita akan dibebaskan sama sekali dari pekerjaan mengingat, dan bisa difokuskan pada pekerjaan mencipta.

Jadi hasil akhirnya:

  1. Pikiran kita bebas sama sekali dari hal-hal yang beterbangan
    Pikiran kita bersih dari semuanya itu, karena kita sudah mengambil keputusan tentang setiap hal itu dan menuliskannya dalam sistem eksternal (sehingga tidak perlu lagi mengingat). Inilah kondisi bebas stres.
  2. Pikiran kita bisa difokuskan pada pekerjaan mencipta
    Karena seluruh potensi pikiran bisa dipakai untuk mencipta, maka hasil pekerjaan kita pasti akan jauh lebih baik. Inilah kondisi produktif.

Tambahan lagi, tidak mungkin ada hal yang terlewat atau terlupa, karena semuanya sudah ditulis dalam sistem eksternal.

Seperti itulah ide dasar GTD. Lalu bagaimana cara menerapkannya ? Untuk menerapkan GTD, ada lima tahap yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Collect
    Satu hal yang ditekankan dalam GTD adalah kita harus mengeluarkan semua hal yang perlu dilakukan dari kepala kita. Karena itu tahap pertama adalah kita harus mengumpulkan semua catatan atau daftar tugas, dan juga menuliskan semua hal yang ada di pikiran kita. Kita harus memastikan bahwa semua stuff yang beterbangan sudah ditangkap tanpa ada yang tertinggal.

Bersambung ke Konsep Getting Things Done (3)

Konsep Getting Things Done (1)

Seperti yang sudah pernah saya tulis, Getting Things Done (GTD) adalah sebuah konsep manajemen waktu yang sangat populer. Banyak orang yang sudah menggunakan dan merasakan manfaat konsep ini, bahkan tidak sedikit situs web yang dikhususkan untuk membahas GTD.

Seperti apakah GTD itu ? Ide dasar dari GTD bisa dilihat dari judul lengkap buku yang ditulis David Allen ini, yaitu Getting Things Done: The Art of Stress-Free Productivity. Jadi ide dasarnya adalah bagaimana kita bisa produktif (mencapai hasil sebanyak mungkin) tanpa mengalami stres. David Allen menyebutnya dengan istilah mind like water, pikiran yang begitu tenang seperti air di kolam. Ide ini tentu saja sangat menarik, karena dengan situasi persaingan seperti sekarang ini tekanan pekerjaan seringkali membuat orang stres. Mencapai hasil sebanyak mungkin dan tidak mengalami stres kelihatannya seperti dua hal yang bertentangan !

Bagaimana agar kita bisa bebas stres dan mempunyai mind like water ? David Allen berusaha merunut kembali mengapa orang mengalami stres. Menurut dia, stres disebabkan karena pikiran kita dipenuhi dengan apa yang disebutnya stuff. Stuff ini adalah hal-hal yang harus kita tangani namun belum kita putuskan apa yang harus kita lakukan tentang hal itu. Hal-hal yang belum diputuskan inilah yang beterbangan terus-menerus dalam pikiran kita dan membuat kita stres.

Lalu bagaimana solusinya ? Sederhana saja: semua stuff itu harus dikeluarkan dari pikiran kita ! Kalau tidak ada lagi stuff dalam pikiran kita maka pikiran kita akan tenang seperti air, mind like water.

Bersambung ke Konsep Getting Things Done (2)