Seni Inovasi

Tidak salah lagi, dalam gaya hidup digital inovasi merupakan suatu keharusan. Bisa dikatakan, hanya mereka yang terus berinovasi sajalah yang bisa survive menghadapi kerasnya persaingan saat ini. Perusahaan-perusahaan yang unggul adalah perusahaan-perusahaan yang tak pernah berhenti berinovasi. Lihat saja Microsoft, Google, atau Pixar ; inovasi merupakan gaya hidup mereka !

Lalu bagaimana caranya berinovasi ? Seperti apakah seni inovasi itu ? Untunglah ada buku yang khusus membahas masalah ini, yaitu The Art of Innovation. Di situ diceritakan bagaimana IDEO, sebuah perusahaan desain produk terkemuka, berusaha terus menemukan ide-ide baru dan berinovasi.

Ada banyak sisi yang dibahas, namun satu hal yang paling mengesankan adalah bagaimana cara mereka menemukan ide-ide baru. Ternyata caranya sederhana, yaitu dengan mengamati ! Mereka mengamati dengan seksama bagaimana cara orang melakukan sesuatu, lalu dari situ mereka menemukan kekurangan-kekurangan yang bisa ditingkatkan. Dari sinilah muncul ide produk baru.

Kita bisa mulai dengan mengamati lingkungan sekitar kita. Umumnya kita sudah begitu terbiasa dengan lingkungan sekitar kita sehingga kita menganggap bahwa … ya, lingkungan kita memang seharusnya begitu, tidak ada apa-apa lagi yang bisa ditingkatkan. Tapi sekarang coba amati dengan seksama, disertai pikiran yang terbuka dan imajinasi yang kreatif. Maka… wow, akan banyak sekali kekurangan yang bermunculan ! Dari sinilah bersumbernya inovasi.

Nasihat Terbaik

Saya sebelumnya tidak pernah membaca majalah Fortune, tapi judul dari edisi terakhir sangat menarik bagi saya: The Best Advice I Ever Got. Karena itu saya memutuskan untuk membelinya.

Dalam edisi tersebut, Fortune menanyai sejumlah tokoh mengenai nasihat terbaik yang pernah mereka peroleh. Banyak tokoh ternama yang dimintai pendapatnya oleh Fortune, di antaranya Warren Buffet, Jack Welch dan Peter Drucker.

Ternyata nasihat-nasihat yang mereka ungkapkan memang luar biasa ! Berikut ini beberapa nasihat favorit saya :

You’ re right not because others agree with you, but because your facts are right. (Warren Buffet)

Be yourself. (Jack Welch)

Don’t listen to the naysayers. (Sallie Krawcheck)

Don’t limit yourself with past expectations. (Vivek Paul)

All you really own are ideas and the confidence to write them down. (Brian Grazer)

The real discipline comes in saying no to the wrong opportunities. (Jim Collins)

Get good – or get out. (Peter Drucker)

Surround yourself with people of integrity, and get out of their way. (Hector Ruiz)

If you love something, the money will come. (Donny Deutsch)

You can learn from anyone. (Clayton Christensen)

Do what you love. (Ted Koppel)

Purpose-Driven Life

Recently, many people around me talk about The Purpose-Driven Life, a book authored by Rick Warren. This book is written with a single goal of helping the readers find the purpose of their life, and live accordingly based on that purpose.

This book is unique because, unlike other books, it is specifically designed to change the readers’ life. It is organized in forty chapters, and the readers are told to read no more than one chapter a day. Why ? Because the author wants to be sure that they have time to think and meditate what they have read.

Up till now, I have read six chapters, and I’m truly impressed. The book emphasizes on eternity, that the reason we live in this world is as preparation for another life, a greater one, that is life in eternity. And thus, we should see everything in the perspective of eternity. Whatever we do today will have the impact on eternity.

This view really gives us a broader perspective, because people usually think only in the term of their lifetime, that is tens of years. Having the perspective of eternity will cause us to see everything in a very different way. What was previously important for us may no longer be important if we see it in the perspective of eternity (things such us wealth, popularity, etc). And what was previously seem unimportant may suddenly become important (things such us personal relationship with God, good relationship with others, a simple touch of love, etc).

The key is we must do the will of God when we live in this world, and not the will of ours. And that will make everything different.

Satu Senti Menuju Sukses

Saya sangat menyukai ungkapan ini:

Sukses itu dibangun senti demi senti, setiap hari.

Jadi sukses itu tidak datang secara sekaligus, juga tidak datang secara mendadak, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, senti demi senti, setiap hari.

Satu senti setiap hari ini berbicara mengenai hal-hal yang kita lakukan secara berdisiplin setiap harinya, hal-hal yang sederhana. Banyak orang yang saat melihatnya akan berkata, “Ah, apa sih ? Cuma satu senti, apa artinya ?” Memang kalau dilihat sekilas, tidak ada perbedaan antara orang yang rajin membangun senti demi senti dengan orang yang hidupnya asal-asalan. Orang yang melihatnya akan berkata, “Ah, sama saja, tidak ada perbedaan.” Memang betul, pada awalnya akan terlihat sama saja, tidak ada perbedaan. Tapi tunggulah lima tahun lagi, orang yang terus membangun senti demi senti akan sudah mencapai ketinggian sepuluh meter, sementara yang asal-asalan hanya tiga meter ! Tunggulah sepuluh tahun lagi, maka perbedaannya akan semakin mencolok ! Luar biasa.

Karena itu cobalah temukan satu senti kita masing-masing, lalu lakukanlah dengan setia. Mengapa ? Karena sukses itu dibangun senti demi senti, setiap hari.

Bos Perusahaan Kita Sendiri

Saya mendapatkan paradigma baru dari buku Accelerated Learning for the 21st Century, yaitu bahwa setiap kita sebenarnya adalah bos dari perusahaan kita sendiri. Kalau pun saat ini kita bekerja di suatu perusahaan, kita sebenarnya bukanlah karyawan dari perusahaan itu. Justru perusahaan itulah yang sebenarnya merupakan client/customer kita !

Paradigma ini membukakan hal-hal yang baru. Mental kebergantungan kepada orang lain sudah bukan jamannya lagi. Kita sendirilah yang bertanggungjawab untuk mengembangkan perusahaan pribadi kita. Kita harus berusaha menjual produknya kepada banyak customer dan terus mengembangkan perusahaan. Dan, berkaitan dengan posting saya sebelumnya, idealnya kita tentu harus menjadi perusahaan yang visioner ! Dan itu tidak mudah.

Nah, sekarang saya melihat diri saya sendiri. Ternyata saat ini saya hanya punya satu customer, yaitu tempat saya bekerja sekarang. Apakah sehat kalau suatu perusahaan hanya punya satu customer ? Tentu saja tidak ! Sangat aneh dan bahkan tidak masuk akal kalau suatu perusahaan hanya punya satu customer. Karena itu, tahun depan sepertinya saya harus bergerak mencari customer-customer baru. Tentu saja customer yang ada sekarang tetap harus dilayani dengan baik karena customer satisfaction itu penting, tapi saya juga harus bergerak mencari customer baru untuk mengembangkan perusahaan. Bukankah seharusnya demikian ?

Dunia Persilatan

Kalau dipikir-pikir, perjalanan seseorang belajar komputer itu mirip seperti dunia persilatan. Ibaratnya, saat kita kuliah Informatika itu sama seperti seseorang yang sedang belajar kungfu di kuil Dairin (kuil di komik Kungfu Boy :) ). Tapi itu belum apa-apa. Lulus kuliah Informatika itu seperti seseorang yang baru menyelesaikan tahap awal belajar kungfu di kuil Dairin. Setelah itu, ia harus berkelana menimbah ilmu dari banyak guru. Kalau dulu di kuil ia mungkin murid yang paling berbakat, sekarang ia akan sadar bahwa di luar sana ternyata banyak pendekar yang jauh lebih hebat. Nah, ia harus merendahkan dirinya untuk belajar dari banyak orang.

Di dunia komputer, menurut saya, salah satu tempat yang terbaik untuk belajar dari para pendekar adalah di milis. Di milis A kita akan belajar dari pendekar-pendekar yang paling jago ilmu A, dan di milis B kita akan belajar dari pendekar-pendekar yang paling jago ilmu B. Ini seperti di dunia persilatan di mana ada pendekar-pendekar tertentu yang paling jago ilmu pedang, dan ada pendekar-pendekar lainnya yang paling jago ilmu tombak. Kita bisa belajar dari keduanya.

Nah, di milis itu kita bisa belajar, berlatih, dan mengadu ilmu dengan pendekar-pendekar lainnya. Memang awalnya kita bukan apa-apa, namun kalau kita terus tekun belajar dan berlatih, niscaya ilmu kita akan meningkat sehingga kita bisa menjadi salah satu pendekar utama di bidang itu.

Cara lainnya untuk belajar dari para guru adalah dengan membaca tulisan-tulisan mereka. Tulisan-tulisan ini bisa berupa buku, artikel, atau – yang sekarang sedang naik daun – berupa blog. Dari tulisan-tulisan ini kita bisa belajar bagaimana cara mereka berpikir dan berkarya. Bahkan kita juga bisa belajar mengenai hal-hal lainnya seperti bagaimana caranya mereka sendiri belajar dan berlatih.

Singkatnya, belajar komputer adalah suatu perjalanan yang panjang seperti seseorang yang sedang terjun di dunia persilatan. Namun, kalau kita tekun belajar dan berlatih serta selalu mau merendahkan diri untuk belajar dari orang lain, pada akhirnya kita pasti akan menjadi seorang pendekar yang kenamaan !

Pixar

Saya nih termasuk orang yang ngefans berat dengan Pixar (perusahaan pembuat film animasi Hollywood). Menurut saya, mereka itu luar biasa ! Kalau mereka membuat film, wow, sangat memukau dan hebat ! Misalnya saja film Finding Nemo. Saya sangat suka film itu. Kalau dilihat dari sisi teknologinya, membuat film seperti itu luar biasa sulitnya. Namun toh, mereka berhasil membuatnya dengan detail dan ketelitian yang mengagumkan. Belum lagi penggambaran karakternya yang benar-benar hidup. Belum lagi jalan ceritanya yang mengesankan. Belum lagi … belum lagi … ya, nggak ada habis-habisnya :)

Menurut saya, Pixar merupakan salah satu contoh nyata dari spirit of excellence. Spirit of excellence berarti mereka benar-benar mengerjakan segala sesuatunya dengan standar yang sangat tinggi, harus perfect dan excellent, tidak boleh ada celah sedikit pun ! Inilah sesuatu yang seringkali saya lihat pada para pembuat film Hollywood. Kata kuncinya adalah the best, only the best, and nothing but the best.

Seharusnya kita semua mempunyai spirit of excellence. Kalau saja kita mempunyainya, wow, hal-hal luar biasa pasti akan terjadi !

'Ide per menit'

Baru-baru ini, di salah satu buku tentang cara belajar (judulnya saya lupa) saya menemukan suatu konsep yang menarik tentang cara membaca yang efektif. Selama ini biasanya orang-orang diukur kemampuan membacanya dengan ‘kata per menit’, yaitu berapa banyak kata yang bisa dibacanya dalam satu menit. Tapi buku itu menunjukkan bahwa fokus kita dalam membaca seharusnya bukan ‘kata per menit’ melainkan ‘ide per menit’, yaitu banyaknya ide yang bisa kita tangkap dalam satu menit.

Konsep ini menarik karena mengubah fokus kita dari sekedar membaca kata-kata yang terdapat dalam buku menjadi berusaha menangkap ide sebanyak-banyaknya dari bacaan tersebut. Kata per katanya malah menjadi kurang penting ; yang penting adalah idenya. Hebatnya lagi, kalau kita membaca dengan cara seperti ini, kecepatan membaca kita pasti juga akan meningkat dengan sendirinya. Kenapa bisa begitu ? Karena fokus kita bukan lagi pada kata per kata melainkan pada idenya, bukan lagi membaca setiap huruf melainkan menangkap idenya secara keseluruhan. Dengan demikian, kita bisa membaca lebih cepat namun sekaligus juga menangkap lebih banyak. Ideal bukan ?

Nah, karena itulah saya sekarang mulai belajar membaca dengan cara seperti ini. Bukan ‘kata per menit’ melainkan ‘ide per menit’. Bukan terfokus pada kata per kata, melainkan pada ide yang disampaikan.

Surely You’re Joking Mr. Feynman

Saya baru saja baca-baca buku yang bagus sekali, judulnya Surely You’re Joking, Mr. Feynman! (maklum lagi libur, jadinya ya banyak baca :) ). Sebenarnya sih saya udah pernah baca buku ini sebelumnya (edisi bahasa Indonesia berjudul Cerdas Jenaka ala Nobelis Fisika), tapi kebetulan lagi pingin baca-baca lagi.

Buku ini menceritakan tentang petualangan hidup Richard P. Feynman, ahli fisika Amerika pemenang hadiah Nobel. Dan satu kesan yang saya tangkap, Richard Feynman ini benar-benar hebat ! Dia itu jenius, tapi juga sangat fun dan asyik !

Saat baca buku ini, rasanya kita jadi punya gambaran bagaimana caranya seorang jenius itu berpikir. Benar-benar suatu dimensi yang berbeda ! Dan jadi kagum-kagum sendiri sambil berkata dalam hati, “Kok bisa ya dia berpikir seperti itu ?” Apalagi karena orangnya fun dan asyik, jadinya ya seru banget. Dari sini kita bisa melihat, betapa menyenangkannya dunia sains itu !

Pokoknya buku ini benar-benar menginspirasikan. Saya rasa ini buku wajib untuk orang-orang yang suka sains dan teknologi. Dari sini mereka bisa melihat dimensi yang baru dalam berpikir dan sekaligus merasakan asyiknya sains. Ini akan memberi banyak inspirasi. Tak heran kalau diskusi Slashdot tanggal 22 Mei 2003 berjudul The Best of Popular Science? juga menyebutkan buku ini sebagai suatu buku wajib !

Must Read Books

Ada buku-buku tertentu yang saya rasa sangat bagus dan perlu dibaca berulang-ulang. Ini adalah buku-buku yang menurut saya termasuk dalam kategori ‘sangat perlu untuk diterapkan’ dalam kehidupan sehari-hari. Karena ‘sangat perlu untuk diterapkan’, maka tentu saja saya harus memastikan bahwa saya tidak lupa dan terus belajar untuk menerapkannya.

Buku-buku tersebut berada pada bidang pengembangan pribadi, dan sampai saat ini ada tiga buku yang masuk dalam kategori ‘sangat perlu untuk diterapkan’ ini, yaitu: The 7 Habits of Highly Effective People, The 21 Irrefutable Laws of Leadership, dan Thinking for a Change.

Ketiga buku itu berisi hikmat-hikmat yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. The 7 Habits of Highly Effective People membahas tentang kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikembangkan agar kita bisa menjadi orang yang sangat efektif. The 21 Irrefutable Laws of Leadership membahas tentang hukum-hukum kepemimpinan yang sangat tepat dan aplikatif untuk meningkatkan kepemimpinan kita. Sedangkan Thinking for a Change membahas tentang pentingnya cara berpikir dalam pencapaian sukses dan memberikan petunjuk sebelas cara berpikir yang diubahkan.

Semua ini menurut saya sangat perlu, dan kalau benar-benar diterapkan, akan membawa dampak yang luar biasa dalam hidup kita. Karena itulah saya merasa perlu membaca buku-buku tersebut berulang-ulang agar dapat benar-benar menerapkannya dalam kehidupan.