Lebih Efisien dengan Hibernate

Berkaitan dengan post Mempercepat Booting Windows, sebenarnya masih ada lagi cara-cara untuk lebih mempercepat booting Windows. Salah satunya adalah dengan menggunakan fitur Hibernate yang tersedia pada Windows XP.

Hibernate adalah salah satu cara mematikan komputer di mana keadaan komputer pada saat itu akan disimpan di harddisk. Dengan demikian, pada saat komputer dinyalakan kembali, proses booting akan jauh lebih cepat karena tinggal mengembalikan keadaan terakhir yang telah tersimpan di harddisk. Windows tidak perlu lagi melalui proses booting standar yang harus menghidupkan kembali fungsi-fungsi Windows satu per satu.

Keuntungan lain dari Hibernate adalah komputer akan langsung kembali ke keadaan terakhir saat dimatikan. Kalau pada saat itu kita sedang membuka program pengolah kata misalnya, maka program itu akan langsung terbuka pada saat komputer kembali dinyalakan. Dengan demikian komputer kita akan langsung siap pakai. Sangat efisien bukan ? Proses booting jauh lebih cepat, dan komputer juga langsung berada dalam keadaan siap pakai !

Lalu bagaimana cara menggunakan Hibernate ? Pada saat kita memilih Turn Off dari menu Start, akan muncul tiga pilihan, yaitu Stand By, Turn Off, dan Restart. Kalau kita menekan dan menahan tombol Shift saat tiga pilihan itu muncul, maka pilihan Stand By akan berubah menjadi Hibernate. Kita tinggal menekan pilihan Hibernate tersebut untuk mematikan komputer dengan cara Hibernate.

Hibernate 1 Hibernate 2

Bagaimana kalau saat Shift ditekan ternyata pilihan Hibernate tidak keluar ? Bisa jadi pilihan untuk Hibernate masih belum diaktifkan. Untuk mengaktifkannya, masuklah ke Control Panel lalu buka Power Options. Pada window Power Options ini terdapat beberapa tab, di mana salah satunya adalah Hibernate. Aktifkan pilihan Enable Hibernation yang terdapat di situ, lalu tekan tombol OK atau Apply. Pilihan Hibernate akan muncul pada saat Turn Off.

Hibernate 3

Bagaimana kalau cara ini juga tidak berhasil ? Ya, itu berarti komputer Anda belum mendukung fitur Hibernate ! Memang tidak semua komputer mendukung fitur Hibernate meskipun telah diinstall Windows XP. Untungnya, sebagian besar komputer telah mendukungnya.

Apa yang Sedang Trend ?

Ya, bagaimana cara mengetahui apa yang sedang trend ? Tentu ada banyak cara untuk mengetahuinya, misalnya dengan melihat surat kabar, televisi, atau berita-berita di Internet. Namun demikian, ada satu cara yang unik tapi bisa jadi justru lebih akurat dibandingkan dengan cara-cara lainnya, yaitu dengan melihat keyword pencarian apa yang sedang populer di Internet !

Masuk akal bukan ? Kalau seseorang mencari tentang suatu topik, berarti ia tentu sedang berminat dengan topik itu. Dan kalau sangat banyak orang mencari tentang topik yang sama, berarti mereka semua sedang tertarik dengan topik itu. Dengan kata lain, topik itu sedang menjadi trend !

Untunglah, informasi tentang topik pencarian paling populer ini bisa dengan mudah kita peroleh. Google menyediakannya dalam bentuk Google Zeitgeist. Di situ kita bisa melihat topik apa saja yang saat ini sedang naik daun atau sedang turun. Selain informasi tentang topik terpopuler secara keseluruhan, Google Zeitgeist juga menyediakan informasi topik terpopuler secara per negara. Jadi kita bisa tahu topik-topik apa saja yang sedang populer di India misalnya.

Ingin tahu apa yang sedang trend di masa lalu ? Arsip Google Zeitgeist di masa lalu tersedia lengkap. Kita bisa membukanya untuk melihat apa yang sedang trend saat itu. Selain itu, setiap akhir tahun Google Zeitgeist membuatkan rangkuman secara keseluruhan untuk tahun itu. Dalam rangkuman ini kita bisa mendapatkan informasi yang lebih rinci tentang trend tahun itu, misalnya pria paling populer, wanita paling populer, acara televisi paling populer, dan sebagainya. Anda bisa melihat sendiri contoh rangkuman untuk tahun 2004.

Jadi, jangan bingung lagi tentang apa yang sedang trend saat ini. Kunjungi saja Google Zeitgeist !

Perburuan Talenta (3)

Bersambung dari Perburuan Talenta (2)

Apa yang mereka tawarkan agar talenta-talenta terbaik mau bekerja di tempat mereka ? Imbalan finansial tentu penting, tapi sebenarnya ada satu faktor lagi yang bahkan lebih penting, yaitu kultur. Bagi talenta terbaik, kultur inilah yang menjadi daya tarik utama. Bukan tidak mungkin mereka rela meninggalkan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi demi pindah ke perusahaan lain yang kulturnya cocok. Mengapa ? Karena bagi talenta terbaik, kebebasan berekspresi dan berkarya lebih penting daripada uang.

Inilah yang menjelaskan mengapa banyak talenta dari perusahaan yang sudah mapan (misalnya Kai-Fu Lee dan Marc Lucovsky dari Microsoft) memilih pindah ke perusahaan yang masih muda seperti Google. Karena Google menawarkan kultur ! Coba Anda lihat di situs ini, di situ Google menjelaskan kultur perusahaannya sebagai alasan mengapa orang ingin bekerja di Google.

Lalu pelajaran apa yang bisa kita petik dari semua ini ? Berikut ini dua pelajaran berharga yang bisa kita petik:

  1. Kalau Anda seorang pekerja, jadilah seorang knowledge worker yang jempolan. Kembangkan terus kemampuan Anda. Lihatlah trend di masa yang akan datang dan bergeraklah ke arah sana. Di masa kini dan terlebih lagi di masa yang akan datang, seorang knowledge worker yang jempolan akan menjadi rebutan !
  2. Kalau Anda menjalankan perusahaan, jadilah perusahaan berbasis pengetahuan (knowledge-based company). Hargailah talenta-talenta di perusahaan Anda. Jadikan pengetahuan kolektif sebagai aset perusahaan. Dan kembangkanlah kultur yang bisa menarik talenta-talenta terbaik ke perusahaan Anda.

Dengan menerapkan kedua pelajaran ini kita akan siap menghadapi era kompetisi abad 21 !

Perburuan Talenta (2)

Bersambung dari Perburuan Talenta (1)

Kalau diperhatikan, ada yang aneh di sini: perusahaan-perusahaan itu tidak memberikan persyaratan yang umum dijumpai yaitu pengalaman kerja ! Perusahaan yang mensyaratkan pengalaman kerja bisa jadi adalah perusahaan yang tidak mau repot dan ingin langsung mendapatkan pekerja yang sudah matang. Namun perusahaan modern sadar bahwa mereka jarang bisa mendapatkan talenta terbaik dengan cara ini. Karena itu, mereka lebih memilih intan-intan yang belum diasah dan kemudian mengasahnya hingga menjadi permata yang cemerlang. Kalau mereka tidak mau repot maka intan-intan itu sudah keburu masuk ke tempat lain. Mereka lebih berpikir tentang potensi seseorang yang bisa dikeluarkan daripada keadaannya saat ini, dan mereka mau bersusah payah mengeluarkan potensi itu demi mendapatkan talenta yang benar-benar terbaik.

Lalu apakah mereka sama sekali tidak tertarik dengan permata yang sudah jadi ? Oh, sebenarnya mereka sangat tertarik, asalkan permata itu benar-benar cemerlang ! Dan inilah yang membawa kita ke front kedua dalam perburuan talenta: perusahaan lain.

Perusahaan-perusahaan modern selalu memonitor orang-orang terbaik dalam industri mereka, dan bila cocok, berusaha menariknya ke perusahaan mereka. Tentu, biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dibandingkan merekrut orang dari universitas. Selain itu, tingkat kesulitannya pun jauh lebih besar karena orang-orang itu sudah terbiasa dengan perusahaan mereka yang lama. Apalagi kalau perusahaan lamanya itu juga perusahaan modern yang mengerti pentingnya SDM. Meskipun demikian, demi mendapatkan talenta terbaik, perusahaan-perusahaan modern rela bekerja keras dan bersusah payah.

Bersambung ke Perburuan Talenta (3)

Perburuan Talenta (1)

Ada satu karakteristik yang menonjol dari perusahaan-perusahaan modern, yaitu mereka sangat haus untuk mendapatkan talenta terbaik. Mereka sadar betul bahwa maju tidaknya perusahaan mereka tergantung pada SDM-nya. Inilah perusahaan-perusahaan yang sudah memasuki era knowledge worker, pekerja berpengetahuan, yaitu para pekerja yang produktivitasnya tergantung pada pengetahuan mereka. Sangat berbeda dengan era sebelumnya di mana banyak pekerja hanya sekedar melakukan tugas-tugas rutin yang tidak membutuhkan banyak berpikir.

Di era knowledge worker, banyak tugas-tugas rutin sudah diambil alih oleh komputer atau mesin. Akibatnya, para pekerja dituntut melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh komputer, yaitu menggunakan otak mereka untuk melakukan analisa dan membuat inovasi. Mereka-mereka inilah yang disebut knowledge worker. Hidup matinya perusahaan di era ini sangat bergantung pada kualitas pengetahuan para pekerjanya. Karena itu, jangan heran kalau mereka benar-benar haus untuk mendapatkan talenta terbaik.

Ada dua front utama untuk perburuan talenta ini, yang pertama adalah universitas dan yang kedua adalah perusahaan lain.

Di front pertama, yaitu universitas, banyak perusahaan berlomba-lomba mendapatkan talenta baru yang cemerlang. Karena jumlah talenta baru ini sangat sedikit, maka perusahaan-perusahaan modern tidak berani menunggu sampai orang-orang itu memasukkan lamaran. Kalau menunggu sampai mereka memasukkan lamaran maka sudah terlambat: talenta-talenta terbaik sudah keburu habis diambil perusahaan lain ! Satu-satunya cara, merekalah yang harus agresif menjemput bola, mendatangi talenta-talenta itu langsung di universitas mereka. Inilah cara yang telah dipakai Microsoft selama bertahun-tahun dan belakangan banyak diikuti perusahaan-perusahaan lain. Perusahaan-perusahaan modern ini secara rutin mengunjungi universitas-universitas, melakukan presentasi, dan berusaha menarik talenta-talenta terbaik.

Bersambung ke Perburuan Talenta (2)

Google Earth (2)

Bersambung dari Google Earth (1)

Kita akan melihat kota New York ini dari perspektif yang lain, jadi tidak tegak lurus seperti pada Surabaya. Selain itu, agar lebih jelas, gambar panel-panel dari Google Earth tidak akan ditampilkan.

Marilah kita mulai dengan melihat New York dari ketinggian 41.522 feet. Tampak nama-nama tempat di sekitar New York seperti Jersey City, Hoboken, dan Union City.

New York 1

Sekarang kita turun ke ketinggian 10.554 feet. Ada detail-detail baru yang bermunculan, seperti Bushwick Inlet dan Corlears Hook.

New York 2

Turun lagi ke ketinggian 3.867 feet. Kini tampak nama-nama jembatan di kota New York, yaitu Manhattan Bridge dan Brooklyn Bridge.

New York 3

Turun lagi ke ketinggian 1.063 feet. Sekarang kita bisa melihat gedung-gedung dan jalan raya.

New York 4

Turun lagi ke ketinggian 302 feet. Sekarang tampak gambar mobil-mobil yang sedang berseliweran di jalan raya. Gedung yang ada di sekitarnya pun tampak sangat jelas. Wow !

New York 5

Memang Google Earth ini membuat ketagihan. Kita bisa pergi ke berbagai penjuru dunia termasuk tempat-tempat wisata terkenal. Untuk memudahkan, Google menyediakan daftar tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi dengan program ini, di antaranya Grand Canyon, Venesia, dan menara Eiffel.

Sudah siap keliling dunia ?

Google Earth (1)

Sudah mencoba Google Earth ? Inilah produk baru Google yang memungkinkan kita melihat foto-foto satelit dari berbagai tempat di bumi. Apa artinya ? Artinya sekarang kita bisa jalan-jalan ke seluruh dunia tanpa perlu benar-benar pergi ke tempat itu !

Untuk menggunakan Google Earth, pertama-tama kita harus mendownload dan menginstall sebuah program dari Google. Setelah diinstall, jalankan program tersebut dan secara otomatis program akan melakukan koneksi dengan server Google. Setelah terkoneksi, akan ditampilkan animasi bola dunia yang sedang berputar. Untuk pergi ke suatu tempat, ketikkan nama tempat yang ingin dikunjungi. Lalu apa yang terjadi ? Bola dunia itu akan berputar dan turun mendekat ke tempat yang kita tuju ! Rasanya seperti orang yang sedang berada di luar angkasa dan kemudian terbang menuju ke bumi. Luar biasa !

Sebagai contoh, kalau kita mengetikkan Surabaya, maka bola dunia akan berputar dan turun menuju Surabaya. Kita bisa mengatur ketinggian kita dari atas permukaan bumi, sehingga tahu bagaimana rasanya melihat Surabaya dari berbagai ketinggian. Gambar berikut ini adalah Surabaya dari ketinggian 37,75 mil. Tampak nama-nama lokasi di sekitar Surabaya seperti Gresik, Waru, Sidoarjo dan Gedangan.

Gambar Surabaya 1

Sekarang kita turun untuk melihat Surabaya dari ketinggian 35.827 feet. Perhatikan, tampak pelabuhan di bagian utara dan garis-garis jalan utama di Surabaya ! Mengagumkan bukan ?

Gambar Surabaya 2

Tapi ini belum apa-apa. Kalau kita menuju ke kota-kota besar dunia, khususnya yang berada di Amerika Serikat, detail yang disediakan akan jauh lebih tinggi. Untuk membuktikannya, saya ingin mengajak Anda berjalan-jalan ke kota New York.

Bersambung ke Google Earth (2)

Kebiasaan Membaca

Dalam sebuah artikel di BusinessWeek, dikatakan bahwa 35% penduduk Amerika memilih membaca sebagai kegiatan pengisi waktu luang mereka. Hal ini menjadikan membaca sebagai kegiatan pengisi waktu luang nomor satu di Amerika. Melihat hal ini tidak heran kalau begitu banyak buku bermutu terbit di Amerika. Di negeri yang suka membaca seperti itu, para pengarang pasti mendapatkan hasil yang sangat sepadan dengan jerih lelah mereka. Di sisi lain, kebiasaan ini juga menjadikan para penduduknya memiliki wawasan yang luas dan maju. Mungkin inilah salah satu sebabnya mengapa begitu banyak inovasi terjadi di Amerika.

Lalu bagaimana dengan kita ? Apakah kita juga mempunyai kebiasaan membaca seperti itu ? Seharusnya kita semua mengembangkan kebiasaan membaca. Seperti kata pepatah, buku adalah jendela dunia. Dengan banyak membaca, kita akan memiliki wawasan yang luas dan maju. Dalam era globalisasi seperti ini, wawasan yang luas adalah suatu keharusan kalau kita tidak mau ketinggalan kereta.

Kantor Tanpa Kertas (2)

Bersambung dari Kantor Tanpa Kertas (1)

Hal ini mengingatkan saya pada buku Business @ the Speed of Thought, di mana Bill Gates menceritakan tentang upaya Microsoft untuk menciptakan kantor tanpa kertas. Di situ dikisahkan bagaimana waktu itu kantor pusat Microsoft mempunyai tidak kurang dari 1000 macam formulir kertas, padahal Microsoft sendiri sering menganjurkan terciptanya kantor tanpa kertas ! Dengan berbagai upaya efisiensi, jumlah 1000 macam formulir kertas itu akhirnya bisa dikurangi menjadi hanya 60, sedang sisanya semua diubah menjadi bentuk digital. Mengapa tidak sekalian semuanya dijadikan digital ? Karena formulir-formulir yang tersisa itu dipakai untuk berhubungan dengan pihak luar yang masih menggunakan kertas.

Dari sini saya terpikirkan dalil ini:

Tingkat kecanggihan suatu organisasi berbanding terbalik dengan jumlah kertas yang digunakan

Artinya, makin canggih suatu organisasi maka makin sedikit jumlah kertas yang digunakan, dan demikian pula sebaliknya, makin tidak canggih suatu organisasi maka makin banyak jumlah kertas yang digunakan.

Mengapa makin sedikit kertas berarti makin canggih ? Karena makin sedikit kertas berarti makin banyak informasi yang disimpan dalam bentuk digital. Dan informasi yang disimpan dalam bentuk digital memiliki banyak keuntungan, di antaranya:

  1. Kantor menjadi lebih bersih dan rapi
    Tidak ada lagi kertas-kertas yang berserakan di berbagai tempat.
  2. Pencarian informasi jauh lebih cepat
    Cukup menjalankan program pencari maka informasi dapat segera diperoleh (lihat post Pencarian Non-Digital).
  3. Penyajian informasi jauh lebih kaya
    Informasi digital bisa disajikan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kriteria kita. Kita bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang dan berbagai tingkat kedalaman, juga bisa digabungkan dengan informasi-informasi lain.
  4. Kolaborasi jauh lebih mudah
    Dengan program groupware seperti Lotus Notes, kolaborasi menjadi jauh lebih mudah dan efisien.

Semuanya ini akan meningkatkan produktivitas kita.

Jadi, untuk meningkatkan produktivitas kita, mulailah pikirkan cara-cara kreatif untuk menciptakan kantor tanpa kertas !

Kantor Tanpa Kertas (1)

Berkaitan dengan pengalaman saya di post Pencarian Non-Digital, saya jadi berpikir tentang kantor tanpa kertas. Sebagai dosen, biasanya saya menerima banyak tugas mahasiswa dalam bentuk kertas. Lembar tugas itu bertumpuk-tumpuk dan menghabiskan banyak tempat. Belum lagi masalah buku-buku tugas khusus dan skripsi. Saya saja yang termasuk dosen yunior sudah kerepotan menyimpan buku-buku itu. Apalagi para dosen senior, tumpukan buku itu bisa sampai ke langit-langit !

Hasilnya, tempat kerja jadi terlihat semrawut karena banyaknya kertas dan buku. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau suatu saat ingin mencari informasi dari buku-buku itu. Pasti merepotkan sekali !

Dari sini saya jadi terpikir untuk berusaha mengurangi jumlah kertas di meja dan lemari saya sebanyak mungkin. Bukankah lebih baik jika semuanya ada dalam bentuk digital ? Karena itu saya berpikir di masa depan mungkin lebih baik semua tugas itu dikumpulkan dalam bentuk digital saja. Dengan begitu tempat kerja saya akan jadi lebih bersih, dan mencari informasi pun akan jauh lebih mudah. Mahasiswa pun senang karena tidak perlu mencetak dan menjilid buku yang membutuhkan biaya ekstra.

Bersambung ke Kantor Tanpa Kertas (2)