Kompetisi untuk Talenta

Dalam pidatonya di Columbia University bulan Oktober lalu, Bill Gates mengatakan sesuatu yang menguatkan apa yang ditulis dalam post Perburuan Talenta, yaitu bahwa kompetisi dalam bidang ini pada dasarnya adalah kompetisi untuk mencari talenta. Berikut ini kutipan pidatonya pada waktu itu:

Those kinds of challenges require a lot of the best software people, and, in fact, a lot of the competition in our business is a competition for talent, making sure that the best minds are going into the software industry and then attracting them, having them in project groups that work together, get lots of feedback from customers, take the research ideas, pour those in and then constantly bring out improvements that drive that software forward.

Anda lihat ? Seperti yang ditulis di post Perburuan Talenta, perusahaan modern sangat haus untuk mendapatkan talenta terbaik. Bisa dibilang mereka rela melakukan segalanya demi mendapatkan talenta terbaik !

Hal ini memang belum terlalu terlihat di Indonesia, tapi saya percaya di masa depan trend-nya akan menuju ke sana. Jenis pekerja yang dibutuhkan adalah knowledge worker (pekerja berpengetahuan), dan knowledge worker terbaik akan menjadi rebutan. Karenanya sebelum era tersebut tiba, bukankah lebih baik kita bersiap-siap dari sekarang ?

Globalisasi 3.0

Selama liburan ini saya membaca buku The World is Flat karya Thomas Friedman. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu saya sudah membaca artikelnya di New York Times, tapi kali ini saya ingin membaca buku lengkapnya. Sekedar informasi, buku ini sekarang sedang laris-larisnya di Amerika dan sudah bertengger di daftar best-seller selama berbulan-bulan.

Lalu apa sebenarnya isi buku itu ? Ini dia yang menarik. Buku itu membahas tentang bagaimana dunia sekarang sudah menjadi datar, bukan lagi bulat. Nah lho ? Yang dimaksud datar di sini bukan bentuk fisik dari bumi ini, melainkan kenyataan bahwa arena kompetisi di dunia sekarang sudah menjadi datar sehingga semua pihak bisa ikut berlomba.

Dulu orang yang tinggal di Amerika misalnya, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk maju daripada mereka yang tinggal di India. Mengapa ? Sebab di Amerika semua sumber daya tersedia. Mulai dari dana, pendidikan, sarana komunikasi, dan ilmu pengetahuan, semuanya tersedia di sana dan di beberapa tempat saja di dunia.

Sekarang keadaan sudah berubah. Dalam era yang disebut Friedman Globalisasi 3.0 (Globalisasi versi 3, seperti versi perangkat lunak) orang-orang di seluruh penjuru dunia memiliki kesempatan yang sama untuk maju. Entah mereka berada di Amerika, India, Jepang, atau Indonesia (jangan lupa yang satu ini :) ), mereka semua memiliki kesempatan yang sama untuk maju ! Setiap orang yang memiliki komputer, akses Internet, dan kepandaian, bisa menjual produknya ke seluruh dunia. Setiap orang ? Betul. Menurut Friedman, dalam Globalisasi 3.0 ini bukan hanya perusahaan, setiap individu pun bisa ikut bermain di pasar global. Wow !

Bagi saya pribadi, hal ini membangkitkan semangat sekaligus ketakutan. Semangat, karena ini berarti kesempatan saya di Indonesia sama besarnya dengan mereka yang berada di Amerika atau Jepang. Seperti mereka, saya juga bisa menjangkau pasar internasional. Namun di sisi lain ini juga menimbulkan ketakutan. Mengapa ? Sebab ini berarti saya harus belajar untuk berpikir dan bersaing secara global ! Kalau dulu saya pikir saingan saya hanya orang-orang di sekitar saya, sekarang saingan saya justru seluruh dunia ! Menakutkan bukan ?

Jadi waspadalah. Globalisasi 3.0 adalah kesempatan besar buat kita semua. Tapi di sisi lain, ia juga menjadi ancaman besar buat kita semua. Karena itu, sekali lagi, waspadalah.

Ulang Tahun Emas Bill Gates

Hari ini (28 Oktober 2005) merupakan ulang tahun Bill Gates yang ke-50 (ulang tahun emas !). Berdekatan memang dengan ulang tahun Microsoft yang saya tulis beberapa hari yang lalu. Sebenarnya saya tidak ingin sering-sering menulis tentang ulang tahun, tapi berhubung ini ulang tahun emas, saya jadi tertarik menuliskannya.

Pada usia 50 tahun ini, Bill Gates sudah menjadi orang terkaya di dunia selama sebelas tahun (!) berturut-turut. Ini berarti dia sudah menjadi orang terkaya di dunia sejak umur 39 tahun ! Wow ! Dan itu dengan perusahaan yang dibangunnya sendiri dari nol, bukan dengan perusahaan warisan orang tua atau dengan memanfaatkan kekayaan alam negaranya (seperti yang dialami orang-orang Arab Saudi). Mengagumkan memang. Semua ini merupakan buah kerja kerasnya sejak mendirikan Microsoft pada usia 19 tahun.

Terus terang, bagi saya satu hal yang paling mengagumkan dari Bill Gates adalah sifatnya yang sangat visioner. Microsoft yang sekarang ini sebenarnya merupakan buah dari visinya saat mendirikan Microsoft tahun 1975 yaitu “satu komputer di setiap rumah dan di setiap meja”. Mungkin hal ini kedengaran biasa sekarang, tapi pada tahun 1975 hal ini seperti mimpi di siang bolong ! Bayangkan saja, waktu itu yang bisa memiliki komputer hanyalah perusahaan-perusahaan, mana mungkin bisa ada “satu komputer di setiap rumah dan di setiap meja” ? Tapi berdasarkan visi itulah Microsoft didirikan. Bill Gates menganggap bahwa di masa depan komputer akan begitu murah dan mudah diperoleh, sehingga faktor yang paling menentukan adalah software-nya. Dan berdasarkan keyakinan inilah Microsoft memulai usahanya. Ternyata visi itu memang terbukti benar sekarang !

Sampai sekarang pun Bill Gates tetap seorang yang visioner dan sangat visioner. Microsoft beruntung memiliki pemimpin yang visioner seperti Bill Gates. Mengapa ? Sebab industri high-tech adalah industri yang bergerak sangat cepat dan tidak kenal ampun. Kalah bergerak sedikit saja akan langsung terlibas dari arena permainan. Tak terhitung banyaknya perusahaan yang sudah mengalami hal ini (sekedar contoh: Lotus dan WordPerfect). Alasan utama Microsoft bisa tetap berada di atas adalah karena pemimpinnya seorang yang sangat visioner sehingga bisa melihat jauh ke depan.

Saya tidak sembarangan menarik kesimpulan ini. Dalam buku Business @ the Speed of Thought, Bill Gates sendiri mengatakan bahwa dia memiliki think week atau minggu berpikir sebanyak dua kali setahun. Selama think week itu, dia tidak masuk kantor dan mengasingkan diri seminggu penuh untuk memikirkan arah perusahaan di masa depan. Dari “masa pertapaan” inilah muncul visi-visi baru yang membuat Microsoft terus melaju dengan kencang menuju masa depan.

Well, Bill Gates memang tokoh yang luar biasa. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari dia. Akhir kata, happy birthday Bill Gates !

Peta Pikiran

Saat ini saya sedang tertarik untuk belajar menggunakan peta pikiran (mind map). Mengapa ? Sebab, peta pikiran adalah alat yang sangat membantu saya untuk:

  1. Memahami suatu konsep, dan
  2. Mengembangkan suatu ide

Mengapa bisa begitu ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin menjelaskan lebih dulu seperti apakah peta pikiran itu.

Peta pikiran adalah sebuah diagram yang terdiri dari sebuah ide utama di tengah yang selanjutnya bercabang ke ide-ide anaknya. Setiap ide anak ini bisa bercabang lagi menjadi ide-ide yang lebih kecil dan demikian seterusnya. Sederhana bukan ? Tidak ada aturan penggambaran yang rumit. Hanya diagram sederhana yang menggambarkan suatu konsep secara bertingkat mulai dari ide utama sampai ke ide-ide yang lebih kecil.

Agar lebih jelas, berikut ini saya berikan contoh peta pikiran yang saya buat untuk post Tool untuk Blogging:

Peta pikiran dari post Tool untuk Blogging

Seperti Anda lihat, peta pikiran ini memiliki ide utama Tool untuk Blogging yang memiliki tiga ide anak yaitu blog publishing, blog client dan utilities. Blog publishing selanjutnya memiliki dua ide anak lagi yaitu siap pakai dan hosting sendiri. Konteks seluruh ide dalam post Tool untuk Blogging bisa dengan mudah dilihat dalam peta pikiran tersebut.

Kembali ke pertanyaan di atas, mengapa peta pikiran bisa membantu kita untuk memahami suatu konsep atau mengembangkan suatu ide ? Jawabannya adalah karena peta pikiran bekerja dengan cara yang sama seperti cara otak bekerja !

Saat otak menerima suatu informasi, ia akan berusaha menghubungkannya dengan informasi lain yang sudah ada sebelumnya. Setiap hubungan ini akan menciptakan koneksi baru di dalam otak. Itulah sebabnya kita lebih mudah mempelajari ilmu di bidang yang akrab bagi kita daripada di bidang yang asing bagi kita. Otak dapat lebih mudah dan lebih cepat menciptakan koneksi untuk ilmu yang sudah akrab bagi kita.

Dalam peta pikiran, kita dapat melihat hubungan antara satu ide dengan ide lainnya dengan tetap memahami konteksnya. Ini sangat memudahkan otak untuk memahami dan menyerap suatu informasi. Mengapa ? Karena cara kerjanya mirip dengan cara kerja koneksi di dalam otak. Di samping itu, peta pikiran juga memudahkan kita untuk mengembangkan ide karena kita bisa mulai dengan suatu ide utama dan kemudian menggunakan koneksi-koneksi di otak kita untuk memecahnya menjadi ide-ide yang lebih rinci.

Singkatnya, saya yakin peta pikiran akan banyak meningkatkan produktivitas kita !

Mengapa Suatu Tulisan Menarik ?

Pada post Kemampuan Menulis, saya telah mengemukakan betapa pentingnya kemampuan menulis itu. Nah, beberapa waktu yang lalu saya berpikir, apa sih sebenarnya yang membuat suatu tulisan itu menarik ? Apa sih sebenarnya yang membuat pembaca begitu betah membaca suatu tulisan ? (Oh ya, konteks saya di sini adalah tulisan nonfiksi, bukan fiksi)

Tentu ada banyak faktor yang membuat suatu tulisan menarik. Namun tiba-tiba saya menyadari, ada satu hal yang selalu muncul di berbagai tulisan menarik yang saya baca. Bagi saya, ternyata hal itulah yang telah membuat saya begitu betah membaca suatu tulisan. Apakah itu ? Yaitu gaya bahasa si penulis yang terbuka tentang dirinya sendiri ! Si penulis menceritakan apa adanya tentang pandangannya, pengalamannya, dan perasaannya. Ia membuka dirinya kepada para pembaca. Apa akibatnya ? Pembaca jadi merasa mengenal sang penulis ! Inilah kata kuncinya. Pembaca merasa mengenal sang penulis, dan dari situlah muncul suatu hubungan emosional.

Kalau dipikir-pikir, saya memang merasa mengenal Joel Spolsky dan Thomas Friedman, misalnya. Saya memang tidak pernah mengenal mereka secara pribadi, namun saya merasa mengenal mereka melalui tulisan-tulisan mereka. Inilah yang membangun suatu hubungan emosional. Akibatnya, membaca tulisan mereka tidak lagi hanya melibatkan pikiran, melainkan juga perasaan. Dan inilah yang membuat tulisan mereka menjadi hidup, menarik, dan berkesan.

Terus terang, saya belum terbiasa menulis dengan gaya seperti itu. Masih belajar … Tapi, bukankah perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama ?

P dan KP (2)

Bersambung dari P dan KP (1)

Ilustrasi yang jelas untuk keadaan ini adalah pisau. Saat pisau sedang dipakai untuk memotong, itu adalah P. Sedangkan saat pisau sedang diasah, itu adalah KP. Mengapa pisau perlu diasah ? Agar pisau itu tetap tajam sehingga dapat terus memotong dengan efektif. Apa yang terjadi kalau pisau itu hanya dipakai untuk memotong namun tidak pernah diasah ? Lambat laun pisau itu akan tumpul sehingga produktivitasnya menurun. Kalau dulu dalam satu menit bisa membuat 50 potongan misalnya, sekarang dalam satu menit hanya bisa membuat 25 potongan. Kalau tetap tidak diasah, jumlah potongan yang bisa dibuat akan terus mengecil !

Memang kalau dilihat sepintas mengasah itu sepertinya membuang-buang waktu. Setelah memotong beberapa saat, kita harus berhenti dan mengasah pisau. Bandingkan dengan orang lain yang dapat terus memotong tanpa perlu berhenti mengasah pisau. Dalam jangka pendek mereka tentu akan menghasilkan lebih banyak potongan. Namun bagaimana dalam jangka panjang ? Orang yang mengasah pisau tentu akan menghasilkan jauh lebih banyak potongan !

Prinsip ini penting sekali dalam kehidupan kita. Jangan sampai kita terlalu sibuk bekerja (P) sehingga lupa mengasah diri (KP). Dalam profesi saya sebagai dosen misalnya, kalau saya hanya berusaha mengajar banyak kelas demi memperoleh imbalan yang besar, maka lambat laun saya akan menjadi tumpul. Saya harus punya waktu luang yang cukup untuk membaca dan belajar agar bisa terus tajam. Orang yang tajam pasti akan bisa masuk ke tingkatan-tingkatan yang baru sementara orang yang tumpul hanya akan berputar di situ-situ saja. Hal ini berlaku juga untuk semua profesi lainnya.

So, kalau Anda ingin tajam, jangan hanya memotong, asahlah diri Anda !

P dan KP (1)

Berbicara tentang produktivitas, saya teringat akan satu tips yang terdapat dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People. Di situ dikemukakan istilah P dan KP, di mana P adalah singkatan dari Produksi dan KP adalah singkatan dari Kemampuan Produksi. P di sini adalah tindakan kita untuk memproduksi sesuatu (misalnya bekerja), sedangkan KP adalah kemampuan yang menunjang kita untuk melakukan P (misalnya kesehatan, wawasan, dan sebagainya).

Keseimbangan antara P dan KP merupakan syarat penting untuk mencapai produktivitas maksimum. Hanya dengan P dan KP yang seimbanglah orang bisa mencapai produktivitas maksimum. Nah, masalahnya, banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk P dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk KP. Mereka ingin mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat namun tidak memperhatikan kemampuan produksi mereka dalam jangka panjang. Akibatnya apa yang terjadi ? Dalam jangka pendek memang mereka mendapatkan hasil lebih banyak, namun dalam jangka panjang mereka tidak mungkin bisa bertahan !

Bersambung ke P dan KP (2)

Mengapa Harus yang Terbaik ? (2)

Bersambung dari Mengapa Harus yang Terbaik ? (1)

Alasan yang kedua adalah talenta terbaik bisa mencapai dimensi yang lebih tinggi. Alasan pertama saja sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan pentingnya talenta terbaik, namun ternyata masih ada alasan kedua yang bahkan lebih penting: talenta terbaik bisa mencapai dimensi baru yang tidak mungkin dicapai oleh orang lain !

Joel membandingkannya dengan dunia tarik suara. Penyanyi terbaik bisa mencapai nada-nada tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh penyanyi biasa. Padahal ada lagu-lagu tertentu yang tidak mungkin dinyanyikan tanpa nada-nada tinggi tersebut. Misalnya saja lagu Queen of the Night dari Mozart memiliki sebuah nada pada oktaf keenam yang hanya bisa dicapai oleh penyanyi terbaik. Akibatnya, penyanyi biasa tidak akan pernah bisa menyanyikan lagu itu ! Begitu juga, talenta terbaik bisa mencapai dimensi baru yang tidak mungkin dicapai oleh orang lain. Bahkan sekalipun suatu perusahaan merekrut banyak orang sekaligus, tidak akan mungkin bisa menandingi kejeniusan seorang talenta terbaik. Mengapa begitu ? Karena talenta terbaik benar-benar berada pada dimensi yang baru, dimensi yang berbeda.

Dalam era hiperkompetitif seperti sekarang, perbedaan ini bisa menentukan hidup matinya suatu perusahaan. Itulah sebabnya perusahaan modern tahu benar, bahwa talenta terbaik adalah kunci bagi keberhasilan perusahaannya !

Mengapa Harus yang Terbaik ? (1)

Sebuah artikel yang ditulis oleh Joel Spolsky menjelaskan dengan baik sekali apa yang telah ditulis dalam post Perburuan Talenta, yaitu mengapa perusahaan-perusahaan modern sangat haus akan talenta terbaik. Mengapa harus yang terbaik ? Mengapa tidak cukup dengan yang biasa-biasa saja ? Padahal tentu saja perusahaan harus membayar mahal untuk talenta terbaik. Jumlah uang yang sama mungkin bisa dipakai untuk mendapatkan beberapa orang ‘kelas menengah’.

Ada dua alasan yang dikemukakan Joel Spolsky dalam artikelnya. Alasan yang pertama adalah talenta terbaik jauh lebih produktif. Artinya, talenta terbaik bisa menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu yang jauh lebih singkat. Atau bila dibalik, dalam waktu yang sama talenta terbaik bisa menyelesaikan pekerjaan jauh lebih banyak.

Dalam uji coba yang dilakukan di sebuah kelas pemrograman komputer misalnya, produktivitas dari siswa terbaik adalah sekitar tiga kali lipat dari siswa papan tengah, dan sepuluh kali lipat dari siswa papan bawah. Perbedaan yang sangat mencolok bukan ? Karena itulah perusahaan modern haus akan talenta terbaik. Meskipun bayarannya lebih mahal, namun produktivitasnya berkali-kali lipat lebih tinggi sehingga perusahaan malah diuntungkan. Sebagai contoh, anggap saja talenta terbaik dibayar dua kali lipat lebih mahal. Namun demikian, karena produktivitasnya sepuluh kali lipat lebih tinggi, maka investasi perusahaan justru lima kali lipat lebih efektif !

Bersambung ke Mengapa Harus yang Terbaik ? (2)

Kemampuan Menulis

Saya selalu kagum dengan banyak penulis dari luar negeri (di antaranya Joel Spolsky, Paul Graham, dan Thomas Friedman). Mereka bisa menulis dengan begitu elegan, santai, namun berbobot. Pembaca dibawa masuk ke dunia-dunia baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Cakrawala kita diperluas dengan cara-cara yang baru. Dan mereka melakukannya dengan begitu luwes sehingga perjalanan kita menjadi perjalanan yang menyenangkan.

Ini membuat saya semakin menyadari pentingnya kemampuan menulis. Orang yang punya kemampuan menulis bisa membawa orang lain mengenal dan menerima ide-ide mereka. Apa gunanya punya ide yang hebat kalau tidak bisa disebarkan ? Sama saja dengan perusahaan yang punya produk hebat tapi tidak mampu memasarkannya. Sia-sia. Dan cara yang paling efektif untuk menyebarkan ide kita adalah dengan menulis. Mengapa menulis ? Karena dengan menulis kita bisa menjangkau banyak orang sekaligus.

Hal ini pernah dibahas oleh Joel Spolsky dalam salah satu artikelnya. Di situ dikatakan bahwa kemampuan menulis akan memberikan perbedaan yang besar. Lalu bagaimana caranya agar bisa menulis dengan baik ? Mudah saja, segeralah mulai menulis ! Dengan mulai menulis kita akan belajar bagaimana bisa menulis dengan baik. Makin banyak kita menulis, maka tulisan kita akan semakin baik dan menulis juga akan semakin mudah. Dan semakin mudah kita menulis maka makin banyak juga yang akan kita tulis. Ini akan menjadi suatu siklus positif yang terus menerus.

Itulah salah satu alasan saya menulis blog ini. Saya bisa belajar menulis dan menyampaikan ide-ide saya. Dengan semakin banyak menulis, saya percaya tulisan saya akan semakin baik dan menulis juga akan semakin mudah. Suatu saat, saya ingin menjadi seperti penulis-penulis favorit saya itu !