Mengapa Suatu Tulisan Menarik ?

Pada post Kemampuan Menulis, saya telah mengemukakan betapa pentingnya kemampuan menulis itu. Nah, beberapa waktu yang lalu saya berpikir, apa sih sebenarnya yang membuat suatu tulisan itu menarik ? Apa sih sebenarnya yang membuat pembaca begitu betah membaca suatu tulisan ? (Oh ya, konteks saya di sini adalah tulisan nonfiksi, bukan fiksi)

Tentu ada banyak faktor yang membuat suatu tulisan menarik. Namun tiba-tiba saya menyadari, ada satu hal yang selalu muncul di berbagai tulisan menarik yang saya baca. Bagi saya, ternyata hal itulah yang telah membuat saya begitu betah membaca suatu tulisan. Apakah itu ? Yaitu gaya bahasa si penulis yang terbuka tentang dirinya sendiri ! Si penulis menceritakan apa adanya tentang pandangannya, pengalamannya, dan perasaannya. Ia membuka dirinya kepada para pembaca. Apa akibatnya ? Pembaca jadi merasa mengenal sang penulis ! Inilah kata kuncinya. Pembaca merasa mengenal sang penulis, dan dari situlah muncul suatu hubungan emosional.

Kalau dipikir-pikir, saya memang merasa mengenal Joel Spolsky dan Thomas Friedman, misalnya. Saya memang tidak pernah mengenal mereka secara pribadi, namun saya merasa mengenal mereka melalui tulisan-tulisan mereka. Inilah yang membangun suatu hubungan emosional. Akibatnya, membaca tulisan mereka tidak lagi hanya melibatkan pikiran, melainkan juga perasaan. Dan inilah yang membuat tulisan mereka menjadi hidup, menarik, dan berkesan.

Terus terang, saya belum terbiasa menulis dengan gaya seperti itu. Masih belajar … Tapi, bukankah perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama ?

P dan KP (2)

Bersambung dari P dan KP (1)

Ilustrasi yang jelas untuk keadaan ini adalah pisau. Saat pisau sedang dipakai untuk memotong, itu adalah P. Sedangkan saat pisau sedang diasah, itu adalah KP. Mengapa pisau perlu diasah ? Agar pisau itu tetap tajam sehingga dapat terus memotong dengan efektif. Apa yang terjadi kalau pisau itu hanya dipakai untuk memotong namun tidak pernah diasah ? Lambat laun pisau itu akan tumpul sehingga produktivitasnya menurun. Kalau dulu dalam satu menit bisa membuat 50 potongan misalnya, sekarang dalam satu menit hanya bisa membuat 25 potongan. Kalau tetap tidak diasah, jumlah potongan yang bisa dibuat akan terus mengecil !

Memang kalau dilihat sepintas mengasah itu sepertinya membuang-buang waktu. Setelah memotong beberapa saat, kita harus berhenti dan mengasah pisau. Bandingkan dengan orang lain yang dapat terus memotong tanpa perlu berhenti mengasah pisau. Dalam jangka pendek mereka tentu akan menghasilkan lebih banyak potongan. Namun bagaimana dalam jangka panjang ? Orang yang mengasah pisau tentu akan menghasilkan jauh lebih banyak potongan !

Prinsip ini penting sekali dalam kehidupan kita. Jangan sampai kita terlalu sibuk bekerja (P) sehingga lupa mengasah diri (KP). Dalam profesi saya sebagai dosen misalnya, kalau saya hanya berusaha mengajar banyak kelas demi memperoleh imbalan yang besar, maka lambat laun saya akan menjadi tumpul. Saya harus punya waktu luang yang cukup untuk membaca dan belajar agar bisa terus tajam. Orang yang tajam pasti akan bisa masuk ke tingkatan-tingkatan yang baru sementara orang yang tumpul hanya akan berputar di situ-situ saja. Hal ini berlaku juga untuk semua profesi lainnya.

So, kalau Anda ingin tajam, jangan hanya memotong, asahlah diri Anda !

P dan KP (1)

Berbicara tentang produktivitas, saya teringat akan satu tips yang terdapat dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People. Di situ dikemukakan istilah P dan KP, di mana P adalah singkatan dari Produksi dan KP adalah singkatan dari Kemampuan Produksi. P di sini adalah tindakan kita untuk memproduksi sesuatu (misalnya bekerja), sedangkan KP adalah kemampuan yang menunjang kita untuk melakukan P (misalnya kesehatan, wawasan, dan sebagainya).

Keseimbangan antara P dan KP merupakan syarat penting untuk mencapai produktivitas maksimum. Hanya dengan P dan KP yang seimbanglah orang bisa mencapai produktivitas maksimum. Nah, masalahnya, banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk P dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk KP. Mereka ingin mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat namun tidak memperhatikan kemampuan produksi mereka dalam jangka panjang. Akibatnya apa yang terjadi ? Dalam jangka pendek memang mereka mendapatkan hasil lebih banyak, namun dalam jangka panjang mereka tidak mungkin bisa bertahan !

Bersambung ke P dan KP (2)

Tetap Aktual dalam Topik Apa Pun (2)

Bersambung dari Tetap Aktual dalam Topik Apa Pun (1)

Masih ada lagi: kita tidak harus mengunjungi situs Google News untuk mendapatkan berita-berita tersebut. Ada dua cara yang ditawarkan Google untuk mendapatkan berita terbaru tanpa perlu mengunjungi situs Google News. Cara pertama adalah melalui email, dan cara kedua adalah melalui RSS.

Untuk menggunakan kedua cara itu, pada halaman utama Google News klik judul kategori yang kita inginkan (misalnya Top Stories, Business, Sports, atau judul kategori buatan kita sendiri). Maka kita akan masuk ke halaman kategori yang khusus hanya menampilkan berita-berita dalam kategori itu.

Di bagian kiri halaman kategori tersebut ada link bertuliskan News Alerts. Link inilah yang memungkinkan kita untuk menerima berita-berita terbaru melalui email. Kalau link tersebut diklik, kita akan masuk ke halaman Google Alerts. Di halaman ini kita bisa mengatur seberapa sering kita ingin email berita dikirimkan ke alamat kita, apakah sehari sekali, seminggu sekali, atau langsung setiap kali ada berita baru.

Sedangkan untuk menggunakan RSS, gunakan link bertuliskan RSS yang juga terdapat di bagian kiri halaman kategori. Link ini cara kerjanya sama persis dengan link-link RSS lainnya. Kita cukup meng-copy alamat yang ditunjuk link itu lalu memasukkannya ke program RSS reader kita (lihat detailnya di post Cara Menggunakan RSS). Selanjutnya semua berita terbaru akan otomatis dikirimkan kepada kita melalui RSS.

Dengan kedua cara ini, kita bisa tetap aktual dalam topik apa pun dan kita bahkan tidak perlu mengunjungi situs Google News !

Tetap Aktual dalam Topik Apa Pun (1)

Adakalanya kita tertarik dengan suatu topik dan ingin terus mengikuti perkembangannya. Untuk itu tentu kita harus mengikuti berita-berita terbaru tentang topik tersebut. Masalahnya situs-situs berita di Internet biasanya hanya menyediakan kategori berita yang umum sehingga tidak ada kategori untuk topik yang kita inginkan.

Lalu bagaimana solusinya ? Untunglah, ada cara yang mudah untuk mengatasi masalah ini. Dengan Google News kita bisa membuat kategori berita kita sendiri dengan topik apa saja ! Hebat bukan ? Topik-topik yang sangat spesifik pun bisa dibuatkan kategorinya, dan otomatis berita-berita terbaru dengan topik itu akan sampai di tangan kita.

Bagaimana cara membuatnya ? Di halaman utama Google News, terdapat sebuah link bertuliskan Customize this page. Kalau link tersebut diklik, akan muncul sebuah kotak untuk mengatur Google News sesuai keinginan kita. Di bagian bawah kotak tersebut ada link bertuliskan Add a custom section. Custom section inilah yang merupakan kategori berita buatan kita sendiri.

Google News

Saat link Add a custom section tersebut diklik, muncul sebuah textbox di mana kita bisa menuliskan kata kunci untuk topik yang kita inginkan. Misalnya, untuk membuat kategori berita tentang gaya hidup digital, masukkan kata kunci digital lifestyle di textbox tersebut. Kita juga bisa memilih berapa berita yang hendak dimunculkan lewat combobox yang terdapat di bawahnya. Setelah selesai, tekan tombol Add section untuk membuat kategori baru tersebut.

Selanjutnya di bagian bawah halaman Google News akan muncul kategori baru yang kita buat. Berita-berita di situ tepat seperti topik yang kita inginkan ! Tidak ingin posisinya berada di bagian bawah halaman ? Kembalilah ke kotak Customize this page. Di situ terdapat kotak-kotak kecil bertuliskan nama kategori-kategori berita yang ada di Google News. Untuk memindahkan posisi suatu kategori kita tinggal menyeret kotak kecil tersebut ke posisi yang diinginkan. Setelah itu tekan tombol Save Layout dan posisi kategori akan otomatis berubah !

Bersambung ke Tetap Aktual dalam Topik Apa Pun (2)

E-Book tentang Blogging

Kemarin malam saya membaca sebuah e-book yang bagus sekali tentang blogging. E-book itu berjudul Who’s There karangan Seth Godin. Meskipun disebut ‘e-book’ namun tidak seperti e-book biasanya yang berisi ratusan halaman, e-book ini hanya berisi 45 halaman. Itu pun ukuran kertasnya tidak sebesar e-book pada umumnya. Kalau di-print mungkin hasilnya akan lebih mirip sebuah buklet. Di samping itu, halaman-halamannya tidak melulu berisi teks, ada juga yang berisi kartun dan kutipan. Serunya lagi, gaya bahasa buku ini sangat ringan dan santai. Akibatnya, dalam semalam saya sudah habis membacanya !

Lalu apa isi buku ini ? Ada banyak hal tentang blogging. Misalnya, blogging telah mengubah dunia media. Kalau dulu hanya orang-orang tertentu yang menguasai media, sekarang semua orang punya kesempatan untuk membuat media sendiri. Setiap kita bisa membuat “koran” pribadi yang bisa dibaca oleh seluruh dunia !

Namun demikian, ada masalah di sini. Meskipun di satu sisi blog membuat setiap orang bisa bersuara di Internet, namun di sisi lain banyaknya blog justru membuat penulis blog menjadi semakin sulit untuk menarik perhatian orang lain di Internet. Bayangkan, ada jutaan blog di Internet padahal setiap orang hanya punya sangat sedikit waktu. Lalu bagaimana caranya agar blog kita bisa menarik perhatian orang lain ? Ya, itulah yang menjadi topik utama buku ini.

Ada banyak ide yang dipaparkan, mulai dari mengelola harapan, gaya penulisan, mengelola komentar, dan konsistensi penulisan. Intinya, blog kita harus benar-benar bermanfaat bagi pengunjung. Kalau tidak, apa gunanya mereka membaca blog kita ? Untuk lebih jelasnya, lebih baik Anda membaca langsung e-book-nya.

Cara Menggunakan Podcasting

Pada post sebelumnya telah diberikan perkenalan tentang podcasting. Lalu bagaimana cara menggunakan podcasting itu sendiri ? Ya, pada post ini kita akan membahas cara menggunakan podcasting. Software podcasting yang akan digunakan sebagai contoh dalam post ini adalah iTunes 4.9 dari Apple. Mengapa iTunes ? Karena inilah software multimedia dari Apple yang telah menghebohkan dunia ! Berpasangan dengan iPod, iTunes telah membuat fenomena baru dalam dunia musik digital dengan menjual lebih dari 500 juta (!) lagu sampai saat post ini ditulis.

Langkah-langkah untuk menggunakan podcasting dengan iTunes adalah:

  1. Download software iTunes dari alamat http://www.apple.com/itunes/download/ dan kemudian install di komputer Anda.
  2. Setelah diinstall, jalankan program iTunes. Di sebelah kiri terdapat sebuah panel bernama Source yang berisi sekumpulan item. Salah satu item yang terdapat di panel Source tersebut adalah Podcasts.
  3. Klik Podcasts di panel Source, maka tampilan di panel kanan akan berubah untuk menunjukkan daftar podcast langganan Anda. Saat ini daftar tersebut masih kosong.
  4. Podcasting 1

  5. Untuk berlangganan podcast, Anda dapat mencari podcast-podcast yang sesuai dengan keinginan Anda di Podcast Directory iTunes. Untuk masuk ke Podcast Directory iTunes, klik label Podcast Directory yang terdapat di sebelah bawah daftar podcast. Untuk langkah ini komputer Anda harus terkoneksi dengan Internet.
  6. Di Podcast Directory, terdapat banyak pilihan podcast. Podcast-podcast yang populer ditampilkan langsung di halaman utama. Anda juga dapat mencari podcast yang Anda inginkan dengan memanfaatkan kotak pencarian yang terdapat di bagian atas Podcast Directory. Selain itu, di bagian kiri terdapat daftar kategori dari berbagai podcast yang tersedia. Anda dapat mengklik suatu kategori untuk melihat podcast-podcast yang terdapat di dalam kategori tersebut. Sampai saat post ini ditulis, terdapat lebih dari 6000 podcast yang terdaftar di Podcast Directory iTunes.
  7. Podcasting 2

  8. Setelah menemukan podcast yang Anda inginkan, klik nama podcast tersebut untuk memunculkan keterangan lengkap tentang podcast tersebut beserta tombol Subscribe. Selanjutnya klik tombol Subscribe itu untuk berlangganan podcast yang bersangkutan. Langkah ini dapat diulangi untuk podcast-podcast lain yang Anda inginkan.
  9. Podcasting 3

  10. Sekarang klik kembali item Podcast di panel Source untuk masuk ke daftar podcast langganan Anda. Podcast yang Anda pilih tadi telah muncul di daftar tersebut.
  11. Untuk mengupdate podcast langganan Anda, klik tombol Update yang terdapat di bagian kanan atas. Selanjutnya iTunes akan secara otomatis men-download-kan episode terbaru dari semua podcast langganan Anda. iTunes juga akan menampilkan daftar episode-episode yang lebih lama.
  12. Podcasting 4

  13. Setelah di-download, Anda bisa men-dobel-klik nama episode tersebut untuk memainkannya. Episode-episode yang lebih lama juga bisa di-download dengan menekan tombol Get yang terdapat di sebelah kanan nama episode tersebut.
  14. Selanjutnya iTunes akan secara otomatis meng-update semua podcast langganan Anda setiap hari. Anda bisa mengatur konfigurasi podcasting di iTunes melalui menu Edit | Preferences pada tab Podcasting.

Setelah semua langkah ini Anda ikuti maka … selamat ! Podcasting telah menjadi bagian dari gaya hidup Anda !

Podcasting

Saat ini ada sebuah trend gaya hidup digital yang sedang naik daun, yaitu podcasting. Tidak seperti RSS yang sudah mulai populer sejak tahun 2000, podcasting baru mulai populer sejak bulan September 2004. Masih sangat baru bukan ? Bahkan bisa dibilang tanggal penulisan post ini bertepatan dengan satu tahun mulai populernya podcasting !

Lalu apa itu podcasting ? Podcasting sebenarnya sangat mirip dengan RSS, di mana kita bisa berlangganan informasi-informasi terbaru secara otomatis. Bedanya, kalau informasi di RSS disajikan dalam bentuk teks, informasi di podcasting disajikan dalam bentuk suara !

Saat kita menggunakan podcasting, situs-situs langganan kita akan secara periodik diperiksa kalau-kalau ada informasi baru yang dikeluarkan. Bila ada, maka file suara yang berkaitan (biasanya dalam format MP3) akan secara otomatis di-download-kan ke komputer kita. Selanjutnya kita bisa menikmatinya dengan menggunakan program-program pemutar musik seperti Windows Media Player, Winamp dan sejenisnya.

Lalu informasi macam apa yang biasanya disajikan dalam bentuk podcast ? Ada bermacam-macam, di antaranya talk show, berita, renungan dan bahkan juga khotbah !

Trend ini sebenarnya muncul dari merebaknya piranti-piranti pemutar musik portabel seperti iPod, bahkan nama podcasting sendiri sebenarnya berasal dari istilah iPod + broadcasting. Mengapa begitu ? Karena dengan pemutar musik portabel ini orang jadi bisa mendengarkan musik di mana saja dan kapan saja. Lalu muncul ide, kalau orang bisa mendengarkan musik di mana saja dan kapan saja, mengapa mereka tidak bisa mendengarkan talk show, berita, dan sebagainya, juga di mana saja dan kapan saja ?

Dari sinilah muncul podcasting. Orang jadi bisa berlangganan talk show atau acara berita favoritnya lalu mendengarkannya di mana saja dan kapan saja !

Mengapa Harus yang Terbaik ? (2)

Bersambung dari Mengapa Harus yang Terbaik ? (1)

Alasan yang kedua adalah talenta terbaik bisa mencapai dimensi yang lebih tinggi. Alasan pertama saja sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan pentingnya talenta terbaik, namun ternyata masih ada alasan kedua yang bahkan lebih penting: talenta terbaik bisa mencapai dimensi baru yang tidak mungkin dicapai oleh orang lain !

Joel membandingkannya dengan dunia tarik suara. Penyanyi terbaik bisa mencapai nada-nada tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh penyanyi biasa. Padahal ada lagu-lagu tertentu yang tidak mungkin dinyanyikan tanpa nada-nada tinggi tersebut. Misalnya saja lagu Queen of the Night dari Mozart memiliki sebuah nada pada oktaf keenam yang hanya bisa dicapai oleh penyanyi terbaik. Akibatnya, penyanyi biasa tidak akan pernah bisa menyanyikan lagu itu ! Begitu juga, talenta terbaik bisa mencapai dimensi baru yang tidak mungkin dicapai oleh orang lain. Bahkan sekalipun suatu perusahaan merekrut banyak orang sekaligus, tidak akan mungkin bisa menandingi kejeniusan seorang talenta terbaik. Mengapa begitu ? Karena talenta terbaik benar-benar berada pada dimensi yang baru, dimensi yang berbeda.

Dalam era hiperkompetitif seperti sekarang, perbedaan ini bisa menentukan hidup matinya suatu perusahaan. Itulah sebabnya perusahaan modern tahu benar, bahwa talenta terbaik adalah kunci bagi keberhasilan perusahaannya !

Mengapa Harus yang Terbaik ? (1)

Sebuah artikel yang ditulis oleh Joel Spolsky menjelaskan dengan baik sekali apa yang telah ditulis dalam post Perburuan Talenta, yaitu mengapa perusahaan-perusahaan modern sangat haus akan talenta terbaik. Mengapa harus yang terbaik ? Mengapa tidak cukup dengan yang biasa-biasa saja ? Padahal tentu saja perusahaan harus membayar mahal untuk talenta terbaik. Jumlah uang yang sama mungkin bisa dipakai untuk mendapatkan beberapa orang ‘kelas menengah’.

Ada dua alasan yang dikemukakan Joel Spolsky dalam artikelnya. Alasan yang pertama adalah talenta terbaik jauh lebih produktif. Artinya, talenta terbaik bisa menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu yang jauh lebih singkat. Atau bila dibalik, dalam waktu yang sama talenta terbaik bisa menyelesaikan pekerjaan jauh lebih banyak.

Dalam uji coba yang dilakukan di sebuah kelas pemrograman komputer misalnya, produktivitas dari siswa terbaik adalah sekitar tiga kali lipat dari siswa papan tengah, dan sepuluh kali lipat dari siswa papan bawah. Perbedaan yang sangat mencolok bukan ? Karena itulah perusahaan modern haus akan talenta terbaik. Meskipun bayarannya lebih mahal, namun produktivitasnya berkali-kali lipat lebih tinggi sehingga perusahaan malah diuntungkan. Sebagai contoh, anggap saja talenta terbaik dibayar dua kali lipat lebih mahal. Namun demikian, karena produktivitasnya sepuluh kali lipat lebih tinggi, maka investasi perusahaan justru lima kali lipat lebih efektif !

Bersambung ke Mengapa Harus yang Terbaik ? (2)