Pembajakan Mematikan Inovasi

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel di Internet yang mengisahkan bagaimana Kingsoft, perusahaan perangkat lunak di Cina, harus mengalami pahitnya pembajakan. Program kamus Inggris-Mandarin buatan mereka terinstall di sebagian besar komputer di Cina, tapi 90% di antaranya merupakan program bajakan ! Kata Ren Jian, chief operating officer dari Kingsoft, “Piracy has had a big impact on us, making it so we can’t get powerful and compete with Microsoft.”

Rupanya betul juga yang ditulis di Economics for Dummies bahwa tidak adanya perlindungan hak cipta akan mematikan inovasi. Dulu di Barat inovasi sangat lambat karena tidak adanya perlindungan hak cipta. Saat satu orang menciptakan sesuatu, dengan mudah orang lain dapat menjiplak hasil kerja kerasnya tanpa perlu membayar kompensasi apa pun. Kenyataan pahit ini antara lain dialami oleh Gutenberg, penemu mesin cetak. Orang lain dengan mudahnya meniru mesin cetak buatan Gutenberg tanpa konsekuensi apa pun. Keadaan seperti ini tentu sangat menghambat inovasi. Siapa sih yang mau bersusah payah menciptakan sesuatu dengan percuma ? Baru setelah hukum hak cipta ditegakkan inovasi mulai bergerak dengan cepat dan semakin cepat.

Nah, saya jadi kuatir tentang Indonesia. Pembajakan kan sangat marak di Indonesia. Sebagian besar perangkat lunak komersial yang terinstall di komputer-komputer di Indonesia adalah bajakan. Untuk mengedit gambar misalnya, program yang paling populer di Indonesia adalah Photoshop, padahal Photoshop itu sendiri harganya ratusan USD ! Di luar negeri hanya kalangan profesional yang biasa menggunakan Photoshop, tapi di Indonesia orang-orang yang baru belajar menggerakkan mouse pun sudah punya Photoshop di komputernya. Belum lagi program-program “mahal” lainnya seperti Corel Draw, Microsoft Office, Macromedia Dreamweaver, AutoCAD dan 3Ds Max (dan jangan lupa game-game seperti Starcraft, DotA dan Counter Strike). Kalau ditotal nilainya mungkin mencapai ribuan USD.

Dalam keadaan seperti ini yang saya kuatirkan adalah industri perangkat lunak di Indonesia. Bagaimana industri perangkat lunak kita bisa maju ? Mereka tidak mempunyai insentif untuk mencipta karena hasil kerja keras mereka bisa dibajak dengan mudah. Bayangkan kalau setelah bekerja keras bertahun-tahun mereka justru tidak menikmati hasilnya sepeser pun ! Tentu bukan berarti  industri perangkat lunak Indonesia mati sama sekali; banyak juga software house yang bermunculan di Indonesia. Tapi saya rasa perkembangannya jauh di bawah yang seharusnya. Sebagai gambaran, output industri perangkat lunak kita mungkin hanya 10 juta USD meskipun potensinya bisa sampai 1 miliar USD.

Di sisi lain, juga tidak mudah untuk memutuskan lingkaran pembajakan ini. Harga program asli relatif mahal dan tidak terjangkau oleh banyak pengguna di Indonesia. Gawatnya lagi, banyak pengguna sudah “keenakan” menggunakan perangkat lunak bajakan sehingga tidak tertarik untuk pindah ke alternatif open source seperti Linux.

Kalau keadaannya terus seperti ini saya kuatir kita akan “dikutuk” untuk selalu hanya menjadi pengguna, bukan pencipta teknologi. Ibaratnya kita seperti membodohi diri sendiri untuk selalu hanya menjadi ekor, bukan kepala. Di masa depan yang semakin mementingkan inovasi, bisa jadi ini akan membuat kita semakin tertinggal dari bangsa lain.

Lalu bagaimana solusinya ? Ya, saya sendiri juga masih bingung. Anda ada ide mungkin ?

2 thoughts on “Pembajakan Mematikan Inovasi”

  1. Bukan software saja yang dibajak, baru-baru ini buku kamus Ind-Jepang, juga dibajak oleh sesama penerbit, jadi mana etika dari penerbit yang mau membajak buku yang laku saja padahal seseorang membuat suatu kamus/buku melakukan penelitian bertahun-tahun, akhirnya IKAPI DKI mengjembatani( Ikatan Penerbit ) untuk diselesaikan secara musyawarah, bagimana jika tidak ada yang menjembataninya atau diluar angota IKAPI ??????. Semoga bagi penerbit kalau mau menerbitkan buku harus menerbitkan buku yang berkualitas, bukan kuantitas saja. SAYA BERHARAP PENERBIT YANG NAKAL JANGAN MEMATIKAN KREATIFITAS PENULIS, YANG BERTUJUAN UNTUK MENJADI ORANG YANG PINTAR, BUKAN UNTUK PENERBIT YANG PINTAR UNTUK KANTONGNYA SENDIRI, UNTUK MENERBITKAN BUKU APA YANG LAKU DIPASARAN LALU DISURUH ORANG MENGETIK ULANG SEDIKIT DITAMABAH, BAGIAN DEPAN SAJA, YANG ANEH DITAMBAH MALAH JADI KONSEP DARI JIWA BUKU ITU MENJADI KABUR.
    Macam penerbit apakah kalau semua penerbit seperti itu??????????????
    Saya yakin bahwa tidak semua penerbit seperti itu ada beberapa penerbit yang memperhatikan mutu, hanya penerbit yang nakal saja spt itu.

Comments are closed.