Hebatnya Google Calendar

Masih ingat kisah kehebatan Gmail ? Pada saat Google meluncurkan Gmail tahun 2004, dunia email provider benar-benar dibuat kalang kabut. Bagaimana tidak, mereka hanya menyediakan ruang sebesar 2 MB (Hotmail) dan 4 MB (Yahoo) padahal Gmail menyediakan sampai 1000 MB ! Tidak hanya itu, antarmuka Gmail pun lebih menarik dan responsif.

Sekarang Google membuat aplikasi terobosan lagi dengan Google Calendar. Kalau Anda pernah mencoba aplikasi kalender online seperti Yahoo Calendar, maka Anda akan merasakan betapa berbedanya Google Calendar. Perbedaan yang paling terasa adalah antarmuka-nya. Google menggunakan teknologi Ajax secara intensif di Google Calendar yang membuat antarmukanya begitu menarik dan responsif.

Continue reading Hebatnya Google Calendar

Ranking Kesiapan ICT Dunia

Belum lama ini World Economic Forum mengeluarkan Networked Readiness Index 2006. Indeks ini menunjukkan ranking kesiapan negara-negara dunia dalam memanfaatkan information and communication technology (ICT) untuk pembangunannya. Berikut ini definisi Networked Readiness Index (NRI) yang diberikan oleh World Economic Forum:

The NRI is defined as the degree of preparedness of a nation or community to participate in and benefit from ICT developments.

Dalam post Revolusi Informasi ditulis bahwa ukuran kemajuan suatu negara dalam abad informasi ini adalah “bandwidth per kapita” dari negara itu dan kemampuan mereka untuk memanfaatkan bandwidth tersebut. Tampaknya NRI inilah ukuran yang paling sesuai untuk itu. Melalui NRI kita bisa melihat ukuran kemajuan suatu negara dalam menghadapi revolusi informasi.

Continue reading Ranking Kesiapan ICT Dunia

Apple – Kekuatan Imajinasi

Kemarin saya mendengarkan podcast dari This Week in Tech yang berjudul Apple 30th Anniversary. Podcast ini bertujuan memperingati ulang tahun Apple yang ketiga puluh (Apple didirikan pada bulan April 1976). Dalam podcast itu diadakan diskusi antar orang-orang Apple yang ikut bergabung pada awal berdirinya Apple, termasuk Steve Wozniak yang merupakan salah satu pendiri Apple (bersama Steve Jobs).

Continue reading Apple – Kekuatan Imajinasi

Digg – Situs Berita Teknologi Web 2.0

Salah satu situs Web 2.0 yang paling sukses adalah Digg. Digg adalah situs berita teknologi seperti juga News.com, Slashdot, dan lain-lain. Tapi ada satu hal yang unik di Digg: muncul tidaknya suatu berita tidak ditentukan oleh editor melainkan oleh banyaknya voting yang diterima oleh berita tersebut ! Semakin banyak voting yang diterima oleh suatu berita maka semakin tinggi ranking berita itu di Digg. Dan hanya berita-berita yang memperoleh voting terbanyaklah yang akan muncul di halaman utama Digg.

Rupanya banyak orang menyukai konsep ini. Terbukti, meskipun baru berusia satu setengah tahun, namun popularitas Digg saat ini sudah mendekati Slashdot yang jauh lebih mapan. Bahkan orang-orang menjuluki Digg sebagai Slashdot killer !

Apa yang dilakukan Digg sebenarnya adalah menonjolkan ciri kedua dari Web 2.0 yaitu Harnessing Collective Intelligence. Digg mengakumulasi pengetahuan dan pendapat banyak orang untuk menyaring begitu banyak berita yang beredar di Internet dan memunculkan hanya yang terbaik. Mekanisme yang melibatkan banyak orang ini benar-benar jitu karena:

  1. Berita yang terkumpul adalah hasil browsing gabungan dari ribuan orang. Akibatnya berita-berita di situs “kecil” yang biasanya terlewatkan pun akan tertangkap oleh Digg.
  2. Penyaringannya juga dilakukan oleh ribuan orang sehingga hasil penyaringannya benar-benar obyektif. Inilah kekuatan wisdom of crowds.

Bisa dikatakan apa yang terjadi di Digg adalah demokrasi murni. Tidak ada otoritas sentral yang membatasi dan benar-benar keinginan “orang banyak”-lah yang terjadi.

Hal ini juga sangat menguntungkan kita yang ingin mengikuti berita-berita di Internet. Digg sudah menyaringkan berita-berita yang kurang bermanfaat sehingga yang tersisa bagi kita hanyalah emas murni. Tanpa susah payah kita bisa langsung mendapatkan berita-berita yang terbaik dari seluruh Internet !

Bermain dengan Google Pages

Google baru saja meluncurkan aplikasi baru yang termasuk kategori Web 2.0, yaitu Google Pages. Aplikasi ini hebat: kita bisa membuat situs web secara visual di Internet ! Google Pages mirip seperti program FrontPage atau DreamWeaver, di mana kita bisa mendesain halaman web untuk dipublikasikan di Internet. Bedanya, kalau dengan FrontPage atau DreamWeaver kita harus menginstall dulu program di komputer kita, sedangkan dengan Google Pages satu-satunya yang kita butuhkan adalah browser. Memang fiturnya tidak selengkap FrontPage atau DreamWeaver, tapi mengingat sulitnya membuat aplikasi yang berjalan dalam browser (jauh lebih sulit daripada aplikasi biasa), kemampuan Google Pages sungguh di luar perkiraan !

Menggunakan Google Pages, kita bisa membuat halaman web yang menarik dengan cepat. Contoh halaman web yang saya buat bisa dilihat di http://donald.latumahina.googlepages.com (alamatnya memang panjang karena user name saya di Google adalah donald.latumahina sedangkan format alamat di Google Pages adalah <user name>.googlepages.com). Untuk menaruh situs buatan kita, Google Pages memberikan kita tempat gratis sebesar 100 MB (bandingkan dengan Geocities yang hanya memberikan tempat sebesar 15 MB).

Sayangnya, karena banyaknya permintaan maka saat ini Google Pages tidak lagi menerima pengguna baru. Kalau sekarang Anda mendaftar Google Pages, maka Anda akan dimasukkan dalam waiting list. Saya beruntung karena sudah sempat mendaftar sebelum ditutup ! :)

Hal yang sama pernah terjadi dengan Google Analytics beberapa waktu yang lalu. Karena banyaknya permintaan maka pendaftar baru juga dimasukkan dalam waiting list. Lagi-lagi saya beruntung karena sudah sempat mendaftar sebelum ditutup. Jadi rupanya ada satu aturan penting kalau kita ingin mencicipi produk baru Google, yaitu daftar secepatnya sebelum terlambat !

Web 2.0 (2)

Bersambung dari Web 2.0 (1)

  1. End of the Software Release Cycle
    Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang berbeda dengan aplikasi pada platform “lama” seperti Windows. Suatu aplikasi Windows biasanya dirilis setiap dua atau tiga tahun sekali, misalnya saja Microsoft Office yang memiliki versi 97, 2000, XP, dan 2003. Di lain pihak, aplikasi Web 2.0 selalu di-update terus-menerus karena sifatnya yang bukan lagi produk melainkan layanan. Google misalnya, selalu di-update data dan programnya tanpa perlu menunggu waktu-waktu tertentu.
  2. Lightweight Programming Models
    Aplikasi Web 2.0 menggunakan teknik-teknik pemrograman yang “ringan” seperti AJAX dan RSS. Ini memudahkan orang lain untuk memakai ulang layanan suatu aplikasi Web 2.0 guna membentuk layanan baru. Contohnya adalah Google Maps yang dengan mudah dapat digunakan orang lain untuk membentuk layanan baru. Sebagai hasilnya muncullah layanan-layanan seperti HousingMaps yang menggabungkan layanan Google Maps dengan Craigslist. Layanan seperti ini, yang menggabungkan layanan dari aplikasi-aplikasi lainnya, dikenal dengan istilah mashup.
  3. Software Above the Level of a Single Device
    Aplikasi Web 2.0 bisa berjalan secara terintegrasi melalui berbagai device. Contohnya adalah iTunes dari Apple yang berjalan secara terintegrasi mulai dari server Internet (dalam bentuk toko musik online), ke komputer pengguna (dalam bentuk program iTunes), sampai ke mobile device (dalam bentuk iPod). Di masa depan diperkirakan akan makin banyak aplikasi-aplikasi yang memiliki sifat ini, misalnya saja demo Bill Gates di CES 2006 menunjukkan integrasi antar device yang luar biasa (lihat post Consumer Electronic Show 2006).
  4. Rich User Experiences
    Aplikasi Web 2.0 memiliki user interface yang kaya meskipun berjalan di dalam browser. Teknologi seperti AJAX memungkinkan aplikasi Internet memiliki waktu respons yang cepat dan user interface yang intuitif mirip seperti aplikasi Windows yang di-install di komputer kita. Contohnya adalah Gmail, aplikasi email dari Google yang memiliki user interface revolusioner. Contoh lainnya lagi adalah Google Maps yang meskipun berjalan dalam browser namun bisa memberikan respons yang cepat saat pengguna menjelajahi peta.

Apakah suatu aplikasi harus memiliki ketujuh ciri-ciri ini untuk bisa disebut “Web 2.0” ? Jawabannya adalah tidak. Namun semakin banyak ciri-ciri yang dimiliki berarti aplikasi itu semakin “Web 2.0” ! Dan satu hal lagi, meskipun contoh-contoh yang diberikan di atas banyak berasal dari keluarga Google, tapi sebenarnya masih banyak aplikasi Web 2.0 yang lain. Di kesempatan lainnya kita akan melihat contoh aplikasi-aplikasi Web 2.0 yang sedang berkembang saat ini.

Web 2.0 (1)

Belakangan ini ada satu istilah yang sedang naik daun, yaitu Web 2.0. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan aplikasi-aplikasi Internet generasi baru yang merevolusi cara kita menggunakan Internet. Semua aplikasi ini membawa kita masuk ke babak baru penggunaan Internet yang berbeda dengan generasi sebelumnya pada pertengahan tahun 1990-an.

Dan jangan heran, belakangan ini banyak aplikasi Internet yang melabeli dirinya dengan “Web 2.0”. Agar tidak terkecoh, pertama-tama tentu kita harus mengerti dulu apa yang dimaksud dengan Web 2.0.

Nah, untuk ini ada satu artikel yang sangat bagus yaitu What is Web 2.0 karangan Tim O’Reilly. Kebetulan juga Tim O’Reilly adalah salah satu pencetus istilah Web 2.0. Jadi dari artikel iini kita bisa mendapatkan informasi langsung dari tangan pertama !

Secara singkat, berikut ini ciri-ciri aplikasi Web 2.0 (diambil dari artikel What is Web 2.0):

  1. The Web as Platform
    Aplikasi Web 2.0 menggunakan Web (atau Internet) sebagai platformnya. Apa sih yang dimaksud dengan platform ? Platform di sini adalah tempat suatu aplikasi dijalankan. Contoh platform yang terkenal adalah Windows, di mana ada aplikasi-aplikasi seperti Microsoft Office dan Adobe Photoshop. Menggunakan Internet sebagai platform berarti aplikasi-aplikasi tersebut dijalankan langsung di atas Internet dan bukan di atas satu sistem operasi tertentu. Contohnya adalah Google yang bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Contoh lainnya adalah Flickr yang juga bisa diakses dari sistem operasi mana pun.
    Kelebihannya jelas, aplikasi-aplikasi Web 2.0 ini tidak lagi dibatasi sistem operasi seperti pada Windows. Dan kita bahkan tidak perlu menginstall apapun untuk menggunakan aplikasi-aplikasi ini !
  2. Harnessing Collective Intelligence
    Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang unik, yaitu memanfaatkan kepandaian dari banyak orang secara kolektif. Sebagai hasilnya muncullah basis pengetahuan yang sangat besar hasil gabungan dari pengetahuan banyak orang. Contoh yang jelas adalah Wikipedia. Wikipedia adalah ensiklopedi online yang memperbolehkan semua orang untuk membuat dan mengedit artikel. Hasilnya adalah ensiklopedi online besar yang sangat lengkap artikelnya, bahkan lebih lengkap daripada ensiklopedi komersial seperti Encarta ! Contoh lainnya lagi adalah del.icio.us di mana semua orang saling berbagi link-link menarik yang mereka temukan. Akibatnya kita bisa menemukan “permata-permata” di Web gabungan hasil browsing dari ribuan orang. Blogosphere juga merupakan contoh kepandaian kolektif karena setiap orang bisa menulis blog-nya sendiri-sendiri lalu saling link satu sama lain untuk membentuk jaringan pengetahuan, mirip seperti sel-sel otak yang saling terkait satu sama lain di dalam otak kita.
  3. Data is the Next Intel Inside
    Kekuatan aplikasi Web 2.0 terletak pada data. Aplikasi-aplikasi Internet yang berhasil selalu didukung oleh basis data yang kuat dan unik. Contohnya adalah Google, yang kekuatannya terletak pada pengumpulan dan manajemen data halaman-halaman Web di Internet. Contoh lainnya lagi adalah Amazon yang memiliki data buku yang bukan hanya lengkap, tapi juga sangat kaya dengan hal-hal seperti review, rating pengguna, link ke buku-buku lain, dan sebagainya. Ini berarti perusahaan yang unggul adalah perusahaan yang menguasai data.

Bersambung ke Web 2.0 (2)

Consumer Electronic Show 2006

Salah satu even penting dalam era gaya hidup digital adalah Consumer Electronic Show (CES) yang berlangsung setahun sekali. Dalam ajang inilah berbagai perusahaan berlomba-lomba memamerkan teknologi terbaru mereka yang akan mewarnai kehidupan kita sehari-hari,mulai dari cara kita menonton TV, main game, membaca buku, dan sebagainya. Singkatnya, dalam ajang ini diperkenalkan teknologi-teknologi terkini untuk gaya hidup digital !

Untuk tahun 2006 ini, CES diadakan pada tanggal 5-8 Januari lalu di Las Vegas. Acara ini diikuti oleh 2500 peserta dari seluruh dunia dan dikunjungi oleh 130.000 orang. Ada lima orang pemimpin industri yang memberikan presentasi (keynote address) pada CES 2006 ini, yaitu Bill Gates (Microsoft), Howard Stinger (Sony), Paul Otellini (Intel), Terry Semel (Yahoo) dan Larry Page (Google).

Kebetulan saya menonton video presentasi Bill Gates dalam even ini. Menarik sekali, di situ Bill Gates memberikan demonstasi seperti apa kehidupan sehari-hari kita di masa depan. Di rumah misalnya, terdapat sebuah komputer dengan layar sentuh yang bisa dimasukkan di dinding. Di komputer itu kita bisa memonitor lokasi anggota keluarga yang lain, melihat jadwal acara keluarga, memasang gambar anak-anak, dan menonton televisi. Kalau kita tertarik dengan acara televisi yang sedang ditayangkan, kita cukup menyentuh sebuah tombol untuk memindahkan tayangan itu ke handphone kita. Jadi kita bisa tetap menontonnya di handphone sementara kita bepergian !

Suasana di kantor juga berbeda. Layar komputernya tidak lagi berupa sebuah monitor 17 inch atau bahkan 20 inch. Yang digunakan adalah sebuah layar datar yang sangat lapang, mungkin setara dengan tiga monitor ukuran besar yang dijejer ! Akibatnya kita bisa sangat produktif dalam bekerja karena bisa melakukan banyak aktivitas sekaligus. Dan tayangan yang sedang kita tonton di handphone bisa dengan mudah dipindahkan ke layar kerja tersebut.

Yang mengagumkan lagi adalah suasana di bandara saat menunggu pesawat. Meja di sana bukan meja biasa, melainkan sebuah komputer dalam bentuk meja. Saat handphone diletakkan, layar komputer di meja itu akan langsung menyala dan mengenali informasi yang terdapat dalam handphone. Komputer di meja itu langsung siap digunakan untuk mengolah informasi yang sedang kita kerjakan.

Lalu misalnya kita mendapatkan sebuah kartu nama dari partner bisnis kita. Ternyata ini bukan kartu nama biasa melainkan kartu nama pintar. Saat kartu itu diletakkan di meja di dekat handphone, komputer di meja itu akan langsung mengenali informasi di kartu dan memasukkannya ke handphone kita ! Semua begitu terintegrasi dengan mulus, saya sendiri sampai kagum waktu melihatnya !

Menurut perkiraan Bill Gates, tahun 2010 semua ini akan bisa menjadi kenyataan. Ya, semoga saja begitu. Mari kita tunggu.

Extension untuk Social Bookmarking

Menyambung post Social Bookmarking dan sekaligus juga Extension untuk Firefox, baru-baru ini telah muncul extension Firefox untuk social bookmarking. Extension ini dikeluarkan oleh del.icio.us yang merupakan layanan social bookmarking paling populer saat ini.

Dengan menginstall extension ini (ukurannya hanya beberapa kilobyte), kita bisa dengan mudah melakukan social bookmarking langsung dari dalam Firefox tanpa perlu mengunjungi situs del.icio.us lebih dulu.Untuk menyimpan bookmark dari sebuah halaman web misalnya, kita cukup menekan tombol Tag yang telah ditambahkan di toolbar Firefox. Nantinya sebuah kotak dialog akan muncul di mana kita bisa mengisikan informasi tambahan seperti catatan atau tag-tag yang hendak ditambahkan ke bookmark tersebut. Untuk melihat koleksi bookmark yang sudah ada, kita cukup menekan tombol My del.icio.us yang juga telah ditambahkan di toolbar.

Di samping itu, extension ini menambahkan satu menu baru di menu utama Firefox, yaitu menu del.icio.us. Melalui menu ini kita bisa langsung mengakses berbagai fitur del.icio.us tanpa perlu mengunjungi situsnya lebih dulu.

Extension ini membuat pengalaman social bookmarking dengan Firefox menjadi mudah dan menyenangkan. Saya saja yang biasanya malas sekarang jadi rajin membuat social bookmark !